Page 113 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 113
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
Secara tradisi, tinggi rendahnya ilmu dan pengetahuan santri atau kiai diukur
dari jumlah kitab yang pernah dipelajarinya dan kepada ulama atau kiai mana Pesantren Tremas
saja bergurunya. Biasanya sebuah pesantren telah menentukan kitab-kitab di Pacitan terkenal
dengan kiai-kiainya
standar dalam aksara Arab karya para ulama muta’akhirin yang masyhur. Dalam yang ahli dalam tata
perkembangannya, banyak ulama Jawa, Sunda, Aceh atau suku lainnya di bahasa Arab, Kiai Haji
kepulauan Indonesia yang menterjemahkan sebagian dari kitab-kitab standar Hasyim Asyari dari
itu ke dalam bahasa daerahnya masing-masing. Tuanku Raja Keumala dari pesantren Tebuireng
Dayah Kuta Keumala, misalnya, banyak menerjemahkan kitab-kitab berbahasa terkenal sebagai ahli
hadist, dan kiai-kiai
Arab yang diajarkan di dayahnya seperti Aqidatul Awam karya Syaikh Ahmad dan pesantren Jempes,
Marzuki tentang ilmu tauhid diterjemahkannya ke dalam bahasa Aceh dengan Kediri terkenal karena
judul Nadlam Abda-u dan Risalat Qathrul Ghaist karya Syaikh Nawawi al-Jawi keahliannya dalam
(al- Bantani) diterjemahkan menjadi Nadlam Masaail. 25 bidang tasawuf.
Sudah menjadi rahasia umum pula bahwa setiap pesantren mempunyai
kekhasan dalam ilmu atau kitab-kitab yang dikembangkannya. Hal itu sangat
terkait erat dengan kompetensi dan peminatan kiainya dalam memperdalam
dan mengembangkan keilmuannya. Pesantren Tremas di Pacitan terkenal
dengan kiai-kiainya yang ahli dalam tata bahasa Arab, Kiai Haji Hasyim Asyari
dari pesantren Tebuireng terkenal sebagai ahli hadist, dan kiai-kiai dari pesantren
Jempes, Kediri terkenal karena keahliannya dalam bidang tasawuf. Sedangkan
Kiai Haji Ahmad Sanusi dari pesantren Gunungpuyuh, Sukabumi terkenal sebagai
ahli tafsir Al-Quran dan salah satu karyanya adalah Tamsyiyyatul-Muslimin fi
Tafsiri Kalami- Rabbil- ‘Alamin yang pada pertengahan dekade 1930-an sempat
dinilai bid’ah oleh sebagian dari kiai di wilayah Priangan Barat, karena ayat-
ayat Qurannya ditulis dalam dua bentuk aksara, yaitu aksara Arab dan Aksara
Latin. Dalam catatan sejarah Indonesia, tafsir ini merupakan tafsir pertama yang
mengalihaksarakan ayat-ayat Quran dari aksara Arab ke aksara Latin. Kemudian Kiai Haji Ahmad
Tuanku Raja Keumala dari dayah Kuta Keumala terkenal sebagai ahli bahasa Sanusi dari pesantren
Arab sekaligus seniman kaligrafi. Kemampuannya dalam bidang bahasa Arab Gunungpuyuh,
itu yang kemudian mendorongnya menerjemahkan kitab-kitab berbahasa Sukabumi terkenal
sebagai ahli tafsir
Arab ke bahasa Aceh seperti yang telah disebutkan di atas. Salah satu karya Al-Quran dan salah
terjemahannya yang dipakai sebagai kitab ajar di dayah Kuta Keumala adalah satu karyanya adalah
Kitab al-Madinun buhi ‘Ala Ghairi Ahlihi karya Syaikh Al Imam Hujjatul Islam Tamsyiyyatul-Muslimin
Zainuddin Abi Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali fi Tafsiri Kalami- Rabbil-
al-Thusy. 26 ‘Alamin. Dalam catatan
sejarah Indonesia,
tafsir ini merupakan
Dalam sistem pesantren tradisional, kekhasan atau keunggulan dalam bidang tafsir pertama yang
mengalihaksarakan
tertentu secara tidak langsung sangat membantu para santri kelana yang ayat-ayat Quran dari
ingin memperdalam kompetensi dalam bidang ilmu tertentu, tanpa harus aksara Arab ke aksara
membuang-buang waktu untuk mata pelajaran lainnya yang tidak relevan Latin.
dengan peminatannya itu. Meskipun secara formal sistem pesantren tradisional
97

