Page 117 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 117

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           Pemerintahan Thomas Stamford Raffles yang mengambil alih kekuasaan atas
           tanah Jawa dari Belanda-Perancis (1811-1816), rupanya mempunyai kecurigaan
           yang hampir sama dengan VOC terhadap para haji, seperti yang dikutip oleh
           Martin van Bruinessen, menyebutkan:

           “Setiap orang Arab yang datang dari Makkah, dan juga setiap orang Jawa yang
           kembali dari sana sesudah menunaikan ibadah haji, di Jawa dianggap orang
           suci, dan sedemikian rupa rakyat biasa terhadap mereka sehingga sering sekali
           orang-orang itu dianggap mempunyai hubungan dengan kekuatan-kekuatan
           gaib. Dengan dihormati semacam itu, tidaklah sulit bagi mereka untuk mengajak
           anak negeri kepada pemberontakan, dan mereka menjadi alat yang paling
           berbahaya di tangan para penguasa pribumi yang menetang kepentingan
           Belanda.“ Padri-Padri Islam itu sering tampak paling giat dalam setiap kasus
           pemberontakan. 31

           Seperti tersirat dalam kutipan di atas, predikat haji dapat menjadikan seseorang
           dihormati oleh penduduk sekitarnya, bahkan dianggap telah mempunyai
           kekuatan gaib. Karena itu tidak terlalu aneh sebenarnya jika banyak pejabat
           Belanda menilai kehadiran seorang haji atau kiai di tengah-tengah masyakarat
           pribumi dapat menjadi unsur penghambat bagi terlaksananya Pax Neerlandica.
           Para haji atau kiai itu dinilai seringkali memfatwakan ajaran-ajaran yang bernada
           anti pemerintah, yang secara langsung mengancam  rust en orde  di wilayah
           tersebut. 32

           Dalam kenyataannya, memang  banyak pesantren anti pemerintahan kolonial       Banyak pesantren anti
           dan secara tidak langsung menanamkan kesadaran kepada para santrinya          pemerintahan kolonial
           bahwa penguasa Belanda adalah penjajah. Seperti diungkapkan oleh Achmad          dan secara tidak
           Djajadiningrat bahwa di Pesantren Karundang, Banten, tempatnya dia berguru,   langsung menanamkan
                                                                                           kesadaran kepada
           para santri umumnya tidak suka kepada Belanda, termasuk orang-orang pribumi    para santrinya bahwa
           yang bekerja pada kantor-kantor pemerintahan. Bahkan ayahnya disebut            penguasa Belanda
           sebagai orang pemakan uang haram, karena menurut lurah santri, apa pun           adalah penjajah.
           yang datangnya dari Goevernemen adalah haram.  33

           Di wilayah Aceh Darussalam yang nota bene masih merupakan kesultanan
           yang sampai akhir abad ke-18, banyak dayah yang mendidik santrinya untuk
           menjadi “martir” dalam menghadapi intervensi militer Belanda ke bumi Aceh
           Darussalam,  di  samping  tetap  menjalankan  pendidikan  tradisionalnya,  yaitu
           pendidikan agama. Dayah Pantee Geulima misalnya, mewajibkan para santrinya
           mengikuti pendidikan militer. Bahkan pada pertengahan tahun 1873, Syaikh
           Ismail yang menjadi pengasuh dayah itu dilantik menjadi panglima perang yang
           mengepalai satu balang (sekitar satu batalyon) pasukan guna mempertahankan
           ibu kota Negara, Banda Aceh. 34










                                                                                                 101
   112   113   114   115   116   117   118   119   120   121   122