Page 119 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 119
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
Meskipun artikel itu bertolak dari rasa sentimen Habib As-Segaf terhadap
Patih Sukabumi, namun pengaruhnya terhadap kelompok masyarakat Belanda
di wilayah Jawa Barat cukup besar. Mereka menilai artikel itu sebagai data
faktual yang perlu ditindaklanjuti secara serius oleh pemerintah. Oleh karena itu
sewaktu terjadi pemberontakan petani di tanah partikelir Ciomas tahun 1886,
para pendukung dan simpatisan tuan tanah Ciomas yang menuduh kaum
fanatis Islam sebagai biang keladinya, antara lain Hoofdpanghulu Bogor dan
keponakannya yang bernama Haji Abdullah. Mereka menyalahkan pula sikap
dingin Gubernur Jenderal Otto van Rees terhadap laporan yang mengungkapkan
tentang meningkatnya fanatisme Islam di wilayah Sukabumi dan Cianjur.
36
Bahkan sewaktu terjadi pemberontakan petani Banten tahun 1888, mereka
menilai sebagai kelanjutan dari meningkatnya fanatisme Islam di kedua daerah
Priangan Barat, dan sekali lagi menyalahkan Otto van Rees yang sejak awal
1888 telah dicopot jabatannya selaku gubernur jenderal Hindia Belanda.
Meskipun ajaran tassawuf atau tarikat merupakan salah satu daya tarik Islam,
namun berdasarkan beberapa laporan, antara lain laporan Hoofdpanghulu
Tasikmalaya di akhir tahun 1880-an, pada dasarnya pesantren yang mengajarkan
tarekat tidak terlalu banyak. Namun isu yang menggambarkan seolah-olah
semua pesantren mengajarkan tarekat serta dampak negatifnya, begitu gencar.
Tuduhan bahwa ajaran tarekat dapat mendorong pesertanya menjadi lebih
fanatis dan beringas, ternyata tidak hanya datang dari para pejabat Belanda
saja, kadangkala juga datang dari kalangan ulama Islam sendiri, seperti telah
disebutkan di atas, antara lain“laporan” dari Sayyid Usman, Habib As-Segaf
(kedua keturunan Arab ini dikenal sangat pro-Belanda), dan Hoofdpanghulu
Muhamad Moesa. Khususnya mengenai laporan Muhamad Moesa, Moriyama
Foto pengikut tarekat
Naqsabandiyah di Pondok
Pesantren Durisawo, Ponorogo.
Sumber: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya.
103

