Page 122 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 122

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
































           Sistem pelajaran  pesantren di
           Padang, Sumatra Barat.
           Sumber: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya.





                                    Di samping sistem bandungan, juga diberikan pelajaran secara  individual, yang
              Diberikan pelajaran   disebut sebagai sorogan. Biasanya sorogan diberikan kepada santri yang sudah
               secara individual,   senior, santri kelana, atau paling tidak santri yang telah menguasai pembacaan
             yang disebut sebagai                                                              -
               sorogan. Biasanya    Al-Qur’an dengan baik dan lancar. Dalam metode ini si santri  membawa kitab
               sorogan diberikan    yang  telah  ditentukannya  sendiri  untuk  dipelajari  dan  didiskusikan  dengan
              kepada santri yang    gurunya. Dalam kesempatan itu ia dapat pula meminta penjelasan mengenai
              sudah senior, santri   beberapa materi pelajaran yang telah lewat, namun masih kurang dipahaminya.
              kelana, atau paling   Tentu saja para santri pun perlu berhati-hati dalam mengajukan suatu pertanyaan
             tidak santri yang telah
             menguasai pembacaan    kepada gurunya.Apalagi jika pertanyaan itu ditafsirkan oleh gurunya bukan
             Al-Qur'an dengan baik   sebagai ungkapan keingintahuan, melainkan dianggap sebagai upaya menguji
                  dan lancar.       atau mengetes kemampuannya sebagai seorang guru. Tindakan semacam itu
                                    untuk sebagian besar pesantren tradisional dianggap sebagai tindakan kurang
                                    ajar.


                                    Disiplin dan kepatuhan, seperti telah disinggung oleh Achmad Djajadiningrat
                                    memang menjadi salah satu ciri khas pesantren tradisional. Namun tuntutan
                                    kepatuhan terhadap para santri, seringkali menjadi faktor penghambat
                                    terhadap perkembangan intelektualitas di lingkungan pesantren. Karena proses
                                                                           .
                                    pembelajaran hanya berjalan dari satu arah, tanpa koreksi atau perbaikan
                                    terhadap kemungkinan terjadinya salah penafsiran. Hal ini kemudian diperkuat
                                    oleh sikap para santri  sendiri  yang kurang  kreatif dan  tidak inovatif, yang
                                    dengan kekurangannya itu memberikan gambaran seolah-olah mengkritik sikap
                                    atau pendapat para guru atau kiai itu adalah haram. Sikap-sikap seperti inilah








                    106
   117   118   119   120   121   122   123   124   125   126   127