Page 127 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 127
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
Reformis. Meskipun demikian, dalam masalah fiqih dan praktik keagamaannya
tidak berbeda dengan Kiai Haji Ahmad Sanusi, yaitu bersandar pada pendapat
Madzhab Syafi’i. Kesamaan inilah yang kemudian mendekatkan kedua
kelompok Haji Abdul Halim ke kelompok AII pimpinan Haji Ahmad Sanusi.
Setelah Indonesia merdeka, kedua kelompok itu sepakat untuk melebur menjadi
satu dengan nama Persatuan Ummat Islam (PUI).
Gerakan modernisasi pendidikan Islam juga dilakukan oleh Kiai Haji Hasyim
Asy’ary di lingkungan pesantrennya di Tebuireng, Cukir-Jombang. Di bawah
asuhan Kiai Hasyim Asy’ary yang kemudian terkenal dengan sebutan Hadratus-
Syekh, pesantren Tebuireng berkembang menjadi pesantren yang besar dan Gerakan modernisasi
paling berpengaruh di kepulauan Indonesia. Karena itu dalam membicarakan pendidikan Islam
masalah pesantren tradisional dan gerakan modernisasi sistem pendidikan Islam, juga dilakukan oleh
Kiai Haji Hasyim
menjadi kurang sempurna jika tidak menyinggung nama Kiai Haji Hasyim Asy’ary Asy’ary di lingkungan
dengan pesantren Tebuirengnya. Berbeda dengan pesantren tradisional pada pesantrennya di
umumnya, sejak awal pendiriannya pada paruh akhir abad ke-19, pesantren Tebuireng, Cukir-
ini lebih memfokuskan pada bidang pendidikan menengah dan tinggi. Karena Jombang. Di bawah
itu, antara 1899-1916 sistem pengajaran sorogan dan bandongan tidak dipakai asuhan Kiai Hasyim
lagi. Sebagai penggantinya dikembangkan sistem musyawarah, yang hasilnya Asy’ary yang kemudian
terkenal dengan
sangat efektif dalam mengembangkan pengetahuan agama Islam. 44 sebutan Hadratus-
Syekh, pesantren
Sistem madrasah di pesantren Tebuireng mulai diperkenalkan pada tahun 1916 Tebuireng berkembang
oleh menantu pertama Hadratus-Syekh, Kiai Ma’sum dan sejak tahun 1919, menjadi pesantren
pengetahuan umum menjadi salah satu mata pelajaran dalam kurikulum yang besar dan paling
berpengaruh di
madrasahnya. Bahkan beberapa bahan ajar seperti morfologi kata-kata Arab, kepulauan Indonesia.
Aljabar, Metamatika, ditulis sendiri oleh Hedratus-Syekh. Antara tahun 1916 dan
1934, madrasah Tebuireng membuka tujuh jenjang kelas yang dibagi ke dalam
dua tingkatan. Tahun pertama dan kedua dinamakan sifir awwal dan sifir tsani.
Para peserta sifir awwal dan sifir tsani dididik khusus untuk menguasai bahasa
Arab sebagai landasan untuk memasuki madrasah lima tahun berikutnya. 45
Sementara di Sumatera Selatan, pengaruh gerakan reformasi Islam terhadap
pesantren setempat, mulai nampak pada awal dekade 1920-an, seperti terlihat
pada pesantren Al-Ittifakiyah di Desa Saka Tiga, Ogan Ilir yang diasuh oleh Kiai
Haji Ishaq Bahsin lulusan dari Al-Azhar. Di samping tetap mempertahankan
sistem tradisionalnya, pada tahun 1922 Kiai Ishaq mulai memperkenalkan
pendidikan dengan sistem klasikal. Berbeda dengan madrasah di pesantren
Genteng, Sukabumi; madrasah di pesantren Ittifakiyah terdiri dari delapan
tingkatan, sehingga para santrinya harus menempuh pendidikan formalnya
selama 8 tahun.
Demikian pula halnya di Tanah Minangkabau, pada akhir dekade 1910-an
beberapa pemimpin surau mulai menerapkan sistem kelas dalam lembaga
pendidikan yang dikelolanya. Syaikh Abbas dari Alang Lawas, Bukittinggi
mendirikan Madrasah Arabiyah yang nota bene kurang mendapat sambutan
111

