Page 130 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 130

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    sehingga untuk memberikan rasa aman mereka me merlukan undang-undang
             Guru ngaji masih tetap   perlindungan. Karenanya, beberapa pihak menilai pernyataan pemerintah yang
             mempunyai kewajiban
            untuk memberitahukan    netral agama itu adalah bohong belaka. Kalau benar tujuannya semata- mata
                   kegiatan         untuk mencegah agar para kiai tidak melakukan tindak “kejahatan” yang
             pengajarannya secara   merugikan pemerintah, tentunya pemerintah dapat menggunakan Straetboek
             tertulis. Di Pulau Jawa,   yang sudah ada.
             surat pemberitahuan
             itu harus disampaikan
             kepada bupati, patih   Namun harus diakui pula bahwa sikap para kiai itu sendiri terhadap peraturan-
                atau penghulu.      peraturan tersebut di atas tidak selalu sama. Di samping yang mengajukan
                                    protes, tidak sedikit pula yang “mendukung atau mematuhinya”. Kelompok
                                    yang patuh dan menurut kepada Belanda inilah yang kemudian memper oleh
                                    piagam atau besluit dari pemerintah, sebagai tanda sahnya menyelenggarakan
                                    pengajaran. Seperti telah disinggung di atas, banyak kiai dan ulama yang
                                    menjadi pegawai pemerintah atau menak kaum, yang memperoleh imbalan dari
                                    pemerintah berupa, gaji dan pembebasan dari berbagai kewajiban membayar
                                    pajak atau herendiensten. Sebab mereka dianggap telah menjadi wakil bupati
                                    dalam masalah agama dan keagamaan. Menurut laporan pemerintah Cianjur,
                                    pada tahun 1925 di wilayah itu telah ada 36 kiai yang memperoleh piagam. Para
                                    kiai seperti inilah yang kemudian disebut oleh sebagian masyarakat Priangan
                                    sebagai kiai besluit. Kadangkala para santri yang demikian sinis terhadap kiai
                                    besluit, tidak menyadari bahwa kiai yang menjadi panutannya pun dapat lancar
                                    mengajar karena men dapat sumbangan dan restu dari pemerintah berupa surat
                                    besluit.
                                           48










                                    Dana Operasional





                                    Pada pesantren-pesantren tradisional, khususnya sebelum munculnya
                                    kekuasaan Orde Baru, para santrinya boleh dikatakan bebas dari semua biaya
                                    pendidikan semacam Sumbangan Pendidikan dan Pembangunan (SPP) maupun
                                    sumbangan bangunan. Hampir semua pembiayaan pesantren, termasuk
                                    kegiatan pembelajaran dan biaya pondokan, sepenuhnya ditangung oleh kiai
                                    beserta keluarganya. Memang sering terjadi dalam membangun sarana maupun
                                    prasarana pesantren, masyarakat sekitarnya atau orangtua para santri datang
                                    membantu dan menyumbang dananya. Bahkan tidak jarang pula orang-orang
                                    tertentu, baik karena kedekatannya ataau kecintaannya terhadap keluarga
                                    kiai, membangunkan sarana prasarana di lingkungan pesantren dengan semua






                    114
   125   126   127   128   129   130   131   132   133   134   135