Page 129 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 129

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3

























                                                                                       Pondok Pesantren Madrasah
                                                                                       Tarbiyah Islamiyah di Sumatra
                                                                                       Barat.
                                                                                       Sistem madrasah baru yang
                                                                                       banyak berkembang di Sumatra
                                                                                       Barat kemudian di wadahi
                                                                                       oleh badan pemersatu PERTI
                                                                                       (Persatuan Tarbiyah Islamiyah).
                                                                                       Sumber: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya.



           Dalam masalah pendidikan Islam, pemerintah Hindia Belanda rupanya berupaya
           bertindak netral sesuai dengan undang-undang atau aturan yang diterbitkannya.
           Sikap netral di sini dalam artian mereka tidak peduli apakah pendidikan Islam itu
           akan dikembangkan oleh para kiai tradisional melalui pesantren-pesantrennya
           ataukah oleh para mujaddid, para reformis Islam melalui sekolah-sekolah atau
           madrasah-madrasahnya. Namun pemerintah tetap mengamati perkembangan
           Islam dengan penuh curiga. Sikap Islam fobia ini antara lain tercermin dari
                                                                   .
           peraturan-peraturan yang diterbitkannya. Misalnya tahun 1905, pemerintah
           menerbitkan satu peraturan yang mengharuskan setiap orang yang akan
           menyelenggarakan pendidikan agama, harus meminta izin secara tertulis.
           Sebagai tindak lanjut dari peraturan itu, pemerintah, membentuk satu, tim
           panitia pang bertugas mengawasi pelaksanaan peraturan tadi. Adapun, yang
                                                        .
           ditunjuk sebagai ketuanya adalah bupati atau patih, dan penghulu sebagai salah
           satu anggotanya. Banyak protes berkaitan dengan, peraturan itu dialamatkan
           kepada pemerintah karena pemerintah dianggap hendak ikut campur dalam
           masalah agama Islam.

           Dua puluh tahun sejak dikeluarkannya peraturan itu, tepatnya pada tahun 1925,
           protes itu dikabulkan. Keharusan untuk mengajukan permohonan mengajar
           agama  itu  dihapuskan.  Walaupun  demikian,  para  guru  ngaji  masih  tetap
           mempunyai kewajiban untuk memberitahukan kegiatan pengajarannya secara
           tertulis. Di Pulau Jawa, surat pemberitahuan itu harus disampaikan kepada
           bupati, patih atau penghulu. Kalau diperhatikan, peraturan itu sebenarnya
           lebih menyerupai apa yang disebut oleh Henshel sebagai “moral entrepreneur”
           pihak penguasa, yang melihat kiai dan ulama swasta sebagai satu ancaman,




                                                                                                 113
   124   125   126   127   128   129   130   131   132   133   134