Page 124 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 124
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
sikap kritis para santri sangat diperlukan jika menginginkan hasil yang maksimal
dalam menuntut ilmu, salah satunya adalah bersikap kritis para kiai.
Jika dibandingkan dengan sistem pendidikan (pesantren) modern, salah satu
Umumnya pesantren kelemahan yang menjadi ciri umum pesantren tradisional adalah dalam masalah
tradisional tidak kurikulum dan tahun ajaran. Umumnya pesantren tradisional tidak mengenal
mengenal kurikulum, kurikulum, silabus dan kalender akademik. Seorang calon santri dapat datang
silabus dan kalender
akademik. Tidak ada pada awal tahun, pertengahan tahun atau akhir tahun, langsung dapat ikut
kalender akademik, belajar. Dengan kata lain ia dapat mendaftar kapan saja dan dijamin dapat
maka praktis pesantren tempat menjadi santri. Begitu pula saat mau mengakhiri masa belajarnya, dia
juga tidak mengenal boleh melakukannya kapan saja seperti halnya sewaktu mengawali proses
masa liburan seperti pembelajarannya. Fakta ini sekaligus menunjukkan bahwa pesantren tidak
halnya sekolah umum.
mengenal ijazah atau sertifikat yang baku sebagai bukti tamat belajar. Memang
ada beberapa pesantren di Jawa Timur yang memberikan semacam tanda
tamat belajar, yaitu secara lisan setelah santri itu berhasil menyelesaikan dan
menguasai kandungan kitab-kitab besar yang menjadi standar keilmuan di
pesantren tersebut (biasanya melalui proses belajar secara sorogan).
Walaupun ada semacam klasifikasi kitab-kitab sesuai dengan tingkat keilmuan
yang dikandungnya, namun tidak semua pesantren menentukan secara ketat,
kitab-kitab mana harus didahulukan untuk dipelajari dan kitab-kitab mana pula
yang dipelajari paling akhir. Kenyataan ini memperkuat bukti bahwa sistem
pembelajaran pada pesantren tradisional tidak jelas “visi dan misi”-nya ditambah
dengan tidak tersusunnya kalender akademik yang baik, sehingga tidak jelas pula
fokus pelajaran/pengetahuan untuk santri tingkat pemula, tingkat menengah
dan tingkat akhir. Selain itu pada pesantren tradisional tidak ada intrumen untuk
mengontrol atau mengkaji, berapa persen materi yang telah disampaikan para
kiai dan ustadz, dapat diserap atau dikuasai oleh para santri. Hanya dalam kasus-
kasus tertentu saja ada semacam ketentuan yang mengharuskan kepada para
santri untuk mempelajari terlebih dahulu, karena dianggap menjadi prasyarat
untuk mempelajari kitab atau pelajaran yang lainnya, bahasa Arab misalnya.
Meskipun bahasa Arab tidak secara langsung menyangkut permasalahan
agama, namun karena Al-Qur’an dan Hadis menggunakan bahasa Arab, maka
bahasa ini diperlakukan seolah-olah pelajaran agama pula. Sejak pertama kali
santri datang menginjakkan kakinya di pesantren, ia harus mempelajari bahasa
Arab, dan menghafal kata-katanya tanpa boleh salah.
Oleh karena tidak ada kalender akademik, maka praktis pesantren juga
tidak mengenal masa liburan seperti halnya sekolah umum. Para santri boleh
mengambil liburan kapan saja sesuai dengan kebutuhannya. Rentang waktu
atau lamanya libur pun tergantung kemauan mereka. Meskipun demikian,
ada pula bulan tertentu di mana kegiatan rutin dalam proses pembelajaran
dikurangi, sehingga mirip masa liburan. Bulan yang dianggap setengah liburan
108

