Page 128 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 128
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
Madrasah Yayasan Pendidikan
Islam Al-Kautsar di Kampung
Arab Al-Munawar, Palembang.
Sementara di Sumatera Selatan,
pengaruh gerakan reformasi
Islam terhadap pesantren
setempat, mulai nampak pada
awal dekade 1920-an.
Sumber: D\irektorat Sejarah dan Nilai Budaya
dari kalangan masyarakat setempat dan juga kawan-kawannya. Sistem
madrasah baru diakui manfaatnya oleh kaum tradisi setelah paruh akhir dekade
1920-an. Setelah itu banyak para pengelola surau yang mendirikan madrasah di
lingkungan surau yang dipimpinnya. Sejalan dengan perkembangan itu, maka
para syaikh dan ulama tradisional lainnya sepakat untuk mendirikan sebuah
badan pemersatu, Madrasah Tarbiyah Islamiyah yang didirikan pada 5 Mei 1928
yang kemudian diperluas menjadi Persatuan Tarbiyah Islamiyah. 46
Masalah yang menjadi sorotan dan kritikan para ulama reformis tidak terbatas
hanva pada kurikulumnya semata, melainkan juga bahan ajarnya, yaitu
penggunaan kitab-kitab kuning. Kitab-kitab tersebut dianggap tidak relevan
lagi dengan perkembangan jaman dan juga di dalamnya banyak persoalan
bid’ah. Oleh karena itu perlu ada perombakan terhadap materi buku ajar
untuk para santri atau siswa madrasah. Dalam Kongres Al-Islam yang pertama
di Cirebon yang diselenggarakan pada 31 Oktober sampai 2 November 1922
perbedaan pandangan mengenai buku ajar itu mencuat. Haji Abdul Wahab
Syaikh Abbas dan pendukungnya mengemukakan bahwa kaum tradisi pada prinsipnya
dari Alang Lawas, setuju dengan perubahan dalam proses pembelajaran agama Islam dengan
Bukittinggi mendirikan
madrasah Arabiyah menggunakan sistem modern, seperti yang dikemukakan oleh kalangan
yang nota bene kurang ulama reformis (yang sering pula disebut kaum muda). Namun mereka tidak
mendapat sambutan sependapat kalau kitab-kitab kuning disingkirkan, karena menurut mereka kitab-
dari kalangan kitab mazhab masih belum dapat diganti. Kongres ini tidak berhasil menyatukan
masyarakat setempat atau mengkompromikan pemikiran kedua kubu yang berbeda pendapat, yang
dan juga kawan-
kawannya. akhirnya masing-masing pihak melakukan modernisasi pendidikan Islam dengan
47
caranya masing-masing.
112

