Page 112 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 112
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
Walaupun materi pelajaran sudah tersedia dalam bentuk teks alias tertulis, namun
penyampaian secara lisan oleh kiai sebagai gurunya dianggap lebih penting dan
lebih berbobot. Biasanya para santri duduk membentuk lingkaran (yang disebut
halaqah, bandongan atau bandungan) sementara kiai duduk dalam lingkaran
sambil membacakan kitab dengan suara yang relatif lantang. Setelah selesai
membacakan materinya, kemudian dilanjutkan dengan memberikan penjelasan
baik dari segi lughawi (bahasa) maupun ma’nawi (makna). Para santri yang
duduk mengelilinginya sibuk memberikan tanda dan catatan pada kitab
yang dimiliknya. Selesai memberikan penjelasan, kiai biasanya menanyakan
kepada para santri, apakah materi yang baru saja dijelaskan cukup dimengerti
dan dipahami. Setelah itu kiai membuka sesi untuk para santri mengajukan
pertanyaan.
Buya Idris, pengasuh Pondok
Pesantrean Madrasah Tarbiyah
Islamiyah, Batang Kabung,
Padang.
Penyampaian secara lisan oleh
kiai sebagai gurunya dianggap
lebih penting dan lebih
berbobot.
Sumber: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya.
Dalam proses pembelajaran di pesantren tradisional, umumnya para santri tidak
berani mengajukan pertanyaan yang menyangsikan penjelasan kiainya, apalagi
mendebat pendapat para kiainya. Karena tindakan seperti itu dapat dinilai tidak
sopan serta dapat kehilangan barakah. Sebab kalau sampai tidak mendapat
barakah, ia akan mendapat kesulitan yang cukup serius di kemudian hari. Karena
itulah santri yang berani “mengoreksi” pendapat kiai, walaupun koreksian itu
didukung oleh argumentasi yang benar serta didukung pula oleh daftar rujukan
yang sahih, tetap saja santri itu dianggap tidak sopan dan kurang ajar oleh
teman seangkatannya atau sejawatnya, seperti yang terjadi pada Ahmad Sanusi.
96

