Page 110 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 110

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    Seperti telah disinggung di atas, meningkatnya jumlah santri mukim membawa
                                    pula konsekuensi logis. Jika pada awalnya jumlah santri mukim dapat ditampung
                                    di rumahnya atau rumah saudara-saudara atau tetangganya, namun setelah
                                    meningkat banyak ia harus membangun kobong-kobong baru sebagai tempat
                                    mondok para santrinya. Dalam proses pengadaan kobong-kobong atau pondok-
                                    pondok asrama santri itu, tidak jarang inisiatifnya datang dari tokoh masyarakat
                                    yang peduli atas pendidikan Islam sekaligus menginginkan ganjaran dari
                                    Allah SWT. Bahkan tidak jarang pula tokoh masyarakat tersebut mewakafkan
                                    tanahnya bagi pengadaan pondok-pondok asrama tersebut. Menurut Kiai Haji
                                    Anwar Musaddad (mantan Rektor IAIN Bandung dan mantan Wakil Rois ‘am
                                    NU) dari Pesantren Musaddaiyah Garut, kadangkala masyarakat marah kepada
                                    kiai jika mereka tidak diajak serta dalam pembangunan sarana atau prasarana
                                    pesantren.

                                    Dengan kata lain, meskipun pesantren itu milik kiai, namun, semua rencana yang
                                    berkaitan dengan pembangunan atau pengembangan sarana pesantren, kiai
                                    wajib hukumnya untuk mengajak masyarakat sekitarnya untuk berpartisipasi.
                                    Ada tidaknya orang yang menyumbang nanti, adalah urusan belakangan. Yang
                                    penting pihak pesantren tidak menutup atau memonopoli pintu ganjaran dari
                                    Maha Pencipta lagi Maha Penyayang. Kiai Anwar Musaddad menceritakan
                                    bahwa ia pernah disindir oleh beberapa orang kenalannya karena tidak pernah
                                    menghubunginya sewaktu akan menambah bangunan di pesantrennya, karena
                                    merasa dana untuk pembangunan itu sudah cukup tersedia. Menjelang akhir
                                    pembangunan, beberapa kenalannya berkunjung ke rumahnya dan melihat
                                    bangunan itu. Mereka langsung menyindirnya dengan mengatakan Ajengan
              Sampai dengan awal    Musaddad rupanya ingin masuk ke sorga tanpa ngajak-ngajak orang lain 23
            abad ke-20, pendidikan
             yang diselenggarakan
                oleh pesantren-     Sebagai catatan, umumnya bangunan pondok atau asrama terletak tidak jauh
             pesantren tradisional   dari masjid. Dan sejalan dengan perubahan itu, mata pelajaran yang diberikan
              Indonesia bertumpu    pun ikut berkembang, tidak semata-mata pelajaran membaca Al-Quran atau
             pada kitab-kitab klasik   ilmu taharah, melainkan ilmu yang lainnya yang menggunakan kitab-kitab atau
             karya ulama ternama,
                terutama yang       kitab kuning yang sudah baku dipergunakan oleh berbagai pesantren.
             mengikuti faham Imam
              Syafi’i di beberapa
             pesantren, kadangkala
              diberikan pula kitab-  Unsur Kitab Kuning
               kitab karya ulama
               dari madzhab lain,
             seperti dari kalangan   Sampai dengan awal abad ke-20, pendidikan yang diselenggarakan oleh
              faham Hanafi, Maliki   pesantren-pesantren tradisional Indonesia bertumpu pada kitab-kitab klasik
              dan Hambali, yang     karya ulama ternama, terutama yang mengikuti faham Imam Syafi’i.Walaupun
            tujuannya lebih kepada
              perluasan cakrawala   demikian, di beberapa pesantren, kadangkala diberikan pula kitab-kitab
              pemikiran, sekaligus   karya ulama dari madzhab lain, seperti dari kalangan faham Hanafi, Maliki
             untuk perbandingan.    dan Hambali, yang tujuannya lebih kepada perluasan cakrawala pemikiran,
                                    sekaligus untuk perbandingan.  Kitab-kitab kuning  itu secara garis besar dapat
                                                                 24





                     94
   105   106   107   108   109   110   111   112   113   114   115