Page 106 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 106
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
Salah satu faktor yang menarik dari kehidupan pesantren adalah aspek
Salah satu faktor yang egaliternya. Semua individu dinilai sama dan sederajat, tidak peduli apakah
menarik dari kehidupan dia santri atau kiai, anak bupati atau anak petani. Faktor seperti itulah yang
pesantren adalah aspek membuat Achmad Djajadiningrat, putera bupati Banten, merasa betah tinggal
egaliternya. Semua
individu dinilai sama di pesantren. Menurut pendapatnya, kehidupan penuh dengan keteraturan,
dan sederajat, tidak ketaatan dan kedisiplinan, yang sangat berlainan dengan kehidupan masyarakat
peduli apakah dia santri di luar pesantren. Setiap santri dianggap sederajat dan dianggap pula sebagai
atau kiai, anak bupati saudara, tidak peduli apakah ia berasal dari keluarga kaya atau miskin, anak
atau anak petani. buruh tani atau anak seorang ambtenar harus melaksanakan tugas dan
kewajibannya selaku santri tanpa kecuali. Sebelum waktu subuh tiba, semua
santri harus bangun dan berkumpul di masjid. Sambil menunggu waktu subuh
tiba, mereka bersama-sama melantunkan puji-pujian atau lagu-lagu yang
mengandung nasihat keagamaan. 19
Walaupun demikian, dalam hal-hal tertentu para santri tetap menilai kiai lebih
tinggi derajatnya daripada para santri. Banyak faktor yang membuat santri begitu
menghormati kiai. Pertama, karena kiai dinilai mempunyai ilmu pengetahuan
tentang agama serta pemahaman agama yang demikian tinggi yang tidak dapat
dikalahkan oleh siapa pun di pesantren tersebut. Kedua, karena kiai adalah
guru yang mengajari dan memberikan ilmu pengetahuan agama, dan karena
itu siapa saja yang tidak menghormati guru, seperti tertulis dalam kitab Ta’lim
Al Muta’alim, ia tidak akan memperoleh keberkahan serta manfaat dari ilmunya
serta studinya pun tidak akan berhasil. 20
Dalam rangka kaderisasi, terutama bagi keluarga kiai yang tidak mempunyai
anak laki-laki, seringkali mencari kader penerus dari kalangan para santrinya,
terutama para santri kelana yang dinilai mempunyai perhatian yang cukup
tinggi kepada ilmu agama. Di samping itu, umumnya santri kelana adalah
putra seorang ulama atau kiai juga sehingga keberhasilan menariknya menjadi
menantu berdampak ganda. Pertama, persoalan calon pengganti atau penerus
pengelola pesantren diatasi. Kedua, jaringan kekeluargaan atau silaturahmi antar
kiai dapat diperluas. Luasnya jaringan kekeluargaan ini sekaligus memperkokoh
jaringan keilmuan yang pada gilirannya nanti ikut memperkuat eksistensi
pesantren-pesantren yang berada dalam asuhan para kiai tersebut. Keunggulan
masing-masing pesantren juga makin tersebar secara baik yang berarti dari segi
jumlah santri mukim ikut pula terpelihara.
90

