Page 104 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 104
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
Unsur Santri
Secara garis besar, santri dapat dibagi menjadi dua kategori. Pertama adalah
santri mukim, yaitu santri yang menetap di kompleks pesantren dalam jangka
waktu tertentu, umumnya lebih dari satu tahun. Mereka inilah yang merupakan
salah satu inti proses ajar-mengajar di pesantren, sekaligus menjadi tolok ukur
kebesaran sebuah pesantren. Apalagi jika sebagian besar dari santri mukim itu
berasal dari luar afdeling atau kabupaten, atau bahkan provinsi. Kedua adalah
santri kalong, yaitu para santri yang tidak menetap di kompleks pesantren, secara
rutin mengikuti proses pembelajaran yang diselenggarakan oleh pengelola
pesantren. Umumnya santri kalong berasal dari penduduk kampung atau desa
yang letaknya berada di sekitar atau tak jauh dari lokasi pesantren. Para santri
ini secara tidak langsung menjadi penghubung antara kiai sebagai pemimpin
pesantren dengan penduduk kampung sekitar pesantren. Mereka secara tidak
langsung juga menjadi media promosi tentang kehebatan dan kharisma kiai
beserta “kemegahan” pesantrennya. Kelompok santri ini pula yang sering
menjadi perantara bagi sebagian masyarakat luar pesantren yang ingin minta
bantuan jasa kiai, baik jasa yang menyangkut masalah keagamaan maupun
masalah yang murni bersifat duniawi.
Sebenarnya, di samping santri mukim dan santri kalong, masih ada kelompok
santri lain yang disebut santri kelana, yang bermukim di pesantren dalam waktu
relatif lebih singkat dibandingkan dengan santri mukim biasa. Mereka sering
berpindah-pindah dari satu pesantren ke pesantren lainnya, meskipun yang
mereka pelajari kadangkala materi yang sama. Jumlah santri semacam ini dapat
Salah satu pemondokan bagi
santri mukim di Pesantren
Mojosari. Penamaan asrama
didasarkan kepada daera asal
santri. Seperti terlihat pada
gambar di samping, asrama ini
dikhususkan kepada santri yang
berasal dari Cirebon.
Sumber: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya.
88

