Page 100 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 100
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
Makam Kiai Haji Ahmad Sanusi.
Tanda bendera merah putih
melambangkan perannya
sebagai pahlawan nasional
dan pemberian gelar kiai
merupakan bentuk penghargaan
dan pengakuan masyarakat
terhadap kompetensi dan prestasi
seseorang guru.
Sumber: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya.
Bukti lainnya yang menunjukkan bahwa faktor kemampuan berperan sebagai
adviseur dan pemberi solusi itu antara lain tercermin dari laporan Mantri
Polisi Sukabumi yang bertugas memata-matai Kiai Haji Ahmad Sanusi. Dalam
laporannya 20 Agustus 1935 dan 21 Januari 1937, disebutkan bahwa suasana
rumah Kiai Haji Ahmad Sanusi tidak pernah sepi dari tamu yang berdatangan
dari wilayah Sukabumi, Batavia, Bogor, Karawang, Bekasi dan Bandung.
Keperluan mereka datang ke tampat itu sangat bervariasi, ada yang datang
untuk bertanya tentang masalah praktik keagamaan, ada pula yang datang
menanyakan masalah politik, seperti boleh tidaknya seorang muslim aktif
dalam organisasi yang sekuler seperti Gerindo dan Partindo, ada pula yang
hanya sekedar untuk menunjukkan rasa hormat dan terimakasih kepada sang
kiai yang telah memberinya nasihat dan advis sehingga usaha taninya atau
perniagaannya menjadi sukses. Untuk model tamu yang disebutkan terakhir,
kebanyakan datang dengan membawa hasil pertanian atau perniagaannya
dengan harapan dapat dicicipi oleh sang kiai beserta keluarganya.
11
Kiai bukan gelar akademik atau pangkat seperti halnya gelar “doktor” atau
pangkat “professor” yang dikenal dunia perguruan tinggi modern. Gelar kiai
pada dasarnya merupakan gelar yang diberikan masyarakat sebagai bentuk
penghargaan dan pengakuan mereka terhadap kompetensi dan prestasi
seseorang guru atau ulama yang mengelola lembaga pendidikan yang disebut
pesantren. Secara tradisional, guru atau ulama akan diberi gelar kiai, selain
mengelola pesantren juga harus sudah berhaji. Di Jawa Barat, kiai yang kemudian
dianggap berprestasi melebihi kiai lainnya di wilayah tersebut, diberi gelar
kehormatan tambahan, yaitu nama desa atau kampung di mana pesantrennya
84

