Page 99 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 99

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           santri, atau kalah sukses dibanding
           teman-teman       seangkatannya.
           Dalam tradisi pesantren ada yang
           disebut sanad, alat pembuktian
           keabsahan ilmunya dan jaminan
           yang ia miliki diakui sebagai seorang
           murid kiai terkenal. Sanad tersebut
           merupakan rantai transmisi yang
           mencatat  nama-nama guru, murid
           dan teman seangkatan dirinya. Kiai
           yang tidak memiliki rantai transmisi
                         8
           tidak akan laku.  Sementara Clifford
           Geetz menilai kharisma Kiai yang
           demikian kuat adalah karena
           perannya sebagai makelar budaya
           (cultural broker),  yaitu  makelar                                          Haji Ahmad Sanusi disebut
                                                                                       oleh masyarakat Sukabumi dan
           budaya  (agama)  Islam  dari  Timur                                         Bogor dengan nama Ajengan
           Tengah ke kalangan masyarakat                                               Gunungpuyuh
           di daerah-daerah pedesaan di                                                Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia
                    9
           Indonesia.
           Pendapat ketiga pakar itu tidak salah, namun tidak sepenuhnya benar. Masih
           ada faktor lain yang tidak diungkapkan, padahal terbukti telah membuat
           kharisma seorang kiai bersinar, yaitu perangkat statusnya sebagai “adviseur”
           dan pemberi solusi terhadap permasalahan yang dibawa masyarakat kepadanya,
           serta perannya sebagai seorang agen perubahan (agent of change). Dengan
           kata lain, selain menjadi guru agama, kiai harus mempunyai kemampuan untuk
           memuaskan ummat atau jamaah dengan cara menjawab atau menanggapi
           pelbagai permasalah yang diajukan oleh masyarakat kepadanya secara agamis,
           termasuk permasalahan yang bersifat politik dan ekonomi.

           Haji  Ahmad  Sanusi    misalnya,  jika  dilihat  dari  sebagian  latar  belakangnya
           sewaktu menjadi santri  Ajengan Gentur, Cianjur, catatannya tidak begitu
           baik. Ia dikenal oleh teman seangkatannya sebagai santri yang kurang ajar
           terhadap gurunya. Jika dikaitkan hal ini dengan sanad yang disebutkan Dhofier,
           maka Ahmad Sanusi tidak akan menjadi seorang kiai terkenal.  Namun dalam
           realitanya, ia mampu mengembangkan diri sehingga menjadi seorang kiai atau
           ajengan kharismatis dan terkemuka di Jawa Barat, melampaui nama besar
           gurunya. Pihak yang memuji kemampuannya tidak hanya sebatas para santri
           dan pengikutnya saja, tetapi juga pejabat Belanda yang ikut memenjarakannya.
           Selaku Adviseur voor Inlandse Zaken, Gobee memuji Haji Ahmad Sanusi sebagai
           kiai yang berintelegensia tinggi, jauh di atas rata-rata para kiai lainnya dan telah
           membuat iri para ahli tafsir. 10









                                                                                                 83
   94   95   96   97   98   99   100   101   102   103   104