Page 102 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 102

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    Haji Hasan Moestapa, banyak pesantren yang ambruk karena kiainya tidak
                                    lagi sanggup menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan masyarakat
                                    kepadanya. Artinya fungsi kiai sebagai unsur motivator, inisiator dan adviseur
                                    tidak berjalan sebagaimana  diharapkan oleh masyarakat. Demikian  eratnya
                                    kaitan antara pesantren dengan kiai, dalam arti tidak mungkin ada pesantren
                                    tanpa seorang kiai, atau sebaliknya. Mungkin karena itu, pada tahun 1920-an,
                                    di wilayah Priangan Timur, Jawa Barat, seorang kiai telah digugat oleh seseorang
                                    melalui surat pembaca pada sebuah Koran setempat. Isinya meminta kepada
                                    pemerintah agar kiai itu dicabut gelar kekiaiannya karena kiai tersebut sudah
                                    tidak mempunyai pesantren lagi.

                                    Sebagian besar pesantren tradisional, surau atau  dayah didirikan oleh kiai
                                    atau keluarga kiai yang sekaligus menjadi pemilik lembaga tersebut. Sturktur
                                    organisasinya relatif sederhana dan tidak mengenal yang disebut “tugas pokok
                                    dan fungsi” seperti dalam satu birokrasi modern yang dikenal pada masa
                                    kini. Pengaturan pelaksanaan kerja organisasi, termasuk kurikulum pelajaran,
                                    sepenuhnya berada di tangan sang kiai. Kualitas pengajaran pesantren pada
                                    khususnya juga sangat tergantung kepada keahlian sang kiai, terutama
                                    dalam menyediakan guru-guru yang kompetensi dan peminatannya sesuai
                                    spesialisai yang dikembangkan oleh pesantren itu. Yang tidak kalah pentingnya
                                    bagi kesinambungan pesatren tersebut adalah kemampuan kiai dalam
                                    mempersiapkan kader yang akan menggantikan kedudukannya. Bagi kiai yang
                                    tidak mempunyai keturunan anak laki-laki, ia harus pandai memilih santri untuk
                                    diambil  jadi  menantu  (jika  mempunyai  anak  perempuan),  agar  pesantrennya
                                    tetap berdiri dan berkembang. Untuk yang disebut terakhir, biasanya sang kiai
                                    menghubungi  atau  bertandang  ke pesantren sejawatnya  atau ke  pesantren
                                    tempatnya dulu berguru menimba ilmu guna mencari calon menantu. Seperti
                                    dikemukakan oleh Dhofier, sistem perkawinan antar keluarga kiai di Jawa
                                    merupakan sesuatu yang lumrah dalam rangka mempertahankan kompetensi,
                                    eksistensi dan kesinambungan sebuah pesantren. 14


                                    Kaderisasi  kiai yang bertumpu pada keluarga, termasuk melalui perkawinan
                                    antar-keluarga kiai, memang suatu hal yang lumrah dan paling strategis baik
                                    dikaitkan dengan pelestarian pesantren maupun keilmuannya. Hal ini karena
             Kaderisasi kiai yang   sanad yang menyangkut keilmuan maupun keluarga sudah terjamin dan tidak
               bertumpu pada        diragukan lagi. Walaupun demikian, tidak berarti tanpa risiko sama sekali
              keluarga, termasuk
             melalui perkawinan     terhadap tradisi keilmuan dan eksistensi sebuah pesantren. Sebab, anak atau
              antar-keluarga kiai,   menantu kiai terkenal belum tentu mempunyai keuletan dan peminatannya
              memang suatu hal      belum tentu sama. Apalagi dalam kehidupan pesantren, unsur penghormatan
            yang lumrah dan paling   yang menjurus kepada pemujaan atau pengkultusan sangat sulit dihindari.
            strategis baik dikaitkan   Sikap seperti inilah yang justru sering menjadi hambatan bagi seleksi dan
              dengan pelestarian
              pesantren maupun      validasi terhadap kompetensi dan peminatan anak-anak kiai, karena tidak
                keilmuannya.        jarang pewaris yang sebelumnya diperhitungkan akan mampu meneruskan
                                    dan menjaga tradisi pesantren itu, justru menjadi unsur penghambatnya.







                     86
   97   98   99   100   101   102   103   104   105   106   107