Page 98 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 98

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3



























           Pondok Pesantren Almasturiyah,
           Sukabumi.
           KH. Muhammad Masturoh
           adalah contoh kiai yang mampu
           mempertahankan eksistensi
           serta kesinambungan Pesantren
           Almasturiyah miliknya.
           Sumber: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya.


                                    Meskipun  lembaga  pesantren  tradisional  sering  disebut  sebagai  lembaga
             Hanya para kiai yang   pendidikan yang kaku dan para kiainya dinilai telah menutup pintu  ijtihad,
            mampu meng-upgrade
              dan meng-update       namun tidak berarti sang kiai harus pula menutup mata terhadap perubahan-
               pengetahuannya       perubahan yang terjadi disekitarnya, yang sebagian di antaranya memerlukan
                yang mampu          pemaknaan dari sudut kepercayaan atau agama. Sebab, seperti digambarkan
               mempertahankan       oleh Hoofd Penghulu Garut, Haji Hasan Moestapa, sejak pertengahan abad ke-
                eksistensi serta    19 banyak pesantren (khususnya di Jawa Barat) yang runtuh karena kiainya tidak
               kesinambungan                                                                  6
                pesantrennya.       mampu lagi menjawab pertanyaan-pertanyaan masyarakat.  Artinya, hanya
                                    para kiai yang mampu meng-upgrade  dan meng-update pengetahuannya
                                    yang mampu mempertahankan eksistensi serta kesinambungan pesantrennya.
                                    Sebab, tanpa tindakan itu, bagaimana dia mampu menjawab persoalan baru
                                    jika dia sama sekali tidak perkembangan jaman?

                                    Deliar Noer menduga kedudukan kiai yang demikian kharismatis dan dihormati
                                    masyarakat merupakan warisan atau kelanjutan dari kedudukan para guru di
                                    masa Hindu.  Sebagai catatan, para guru termasuk ke dalam kasta Brahmana,
                                                7
                                    yang merupakan kasta tertinggi dalam struktur Hindu. Dhofier juga sependapat
                                    bahwa kiai begitu dihormati karena dia seorang guru, namun bukan karena
                                    kastanya lebih tinggi, melainkan karena statusnya sebagai orang yang memberi
                                    ilmu pengetahuan. Karena itu, sebagian masyarakat di Jawa begitu percaya
                                    bila tidak menghormati guru, apalagi sampai melupakan ikatan “guru-murid”,
                                    merupakan aib besar. Ilmu si santri menjadi tidak banyak bermanfaat. Jika si santri
                                    kelak membuka sebuah pesantren, maka tidak akan mampu menarik banyak









                     82
   93   94   95   96   97   98   99   100   101   102   103