Page 95 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 95
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
maar allen-met luider stem, hetzij de taak van gisteren te repeteeren of
het zooeven door den goeroe verbeterde verder to oefenen. Men hoort
dus in zulk eene langgar een recht verward mengelmoes van geluiden,
maar daar de knapen van jongs of gewend zijn, aleen naar zichzelve te
luisteren, hindert die vervarring hen bij hunne oefeningen niet.
(Pengajian A1-Qur’an ini diberikan secara individual kepada para murid.
Biasanya mereka berkumpul di salah satu langgar atau di serambi rumah
sang guru. Mereka membaca dan melagukan ayat-ayat suci di hadapan
guru satu per satu di bawah bimbingannya selama seperempat atau
setengah jam, dan ketika salah seorang murid menghadap guru, murid
lainnya dengan suara keras mengulang ngaji kemarin atau lanjutan
pelajaran yang telah diperbaiki gurunya. Jadi dalam langgar atau rumah
semacam itu, orang dapat mendengar bermacam-macam suara bercampur
baur menjadi satu. Tetapi murid tersebut tidak terganggu suara murid
lainnya.)
3
Sistem pengajian
Sistem pengajian tradisional tidak mengenal kalender akademik dan juga tradisional tidak
tidak ada ujian akhir dan sertifikat sebagai tanda kelulusan. Para santri dapat mengenal kalender
akademik dan juga
mengakhiri masa belajarnya kapan saja. Namun setelah banyak berdiri sekolah- tidak ada ujian akhir
sekolah umum seperti Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan sertifikat sebagai
dsb, umumnya mereka akan berhenti “mengaji” setelah mereka menyelesaikan tanda kelulusan.
SD. Satu-satunya tanda bahwa si santri pernah belajar di pengajian “anu” secara Bagi orang tua yang
baik tercermin dari perilaku dan tindakannya, antara lain mampu membaca Al- menginginkan anaknya
lebih mendalami
Quran dan mengerjakan ibadah salat wajib lima waktu(fardhu). ilmu Islam, atau
menginginkan anaknya
Walaupun sejak pertengahan abad ke-20 sudah banyak madrasah didirikan oleh menjadi seorang ulama
berbagai organisasi keagamaan dan kemudian pemerintah, model pengajian atau kiai, mereka
akan mencarikan
seperti telah dilukiskan di atas ternyata masih banyak diselenggarakan, sebuah pesantren,
terutama di wilayah pedesaan dan pinggiran kota. Dari segi penggunaan waktu baik di daerah yang
penyelenggaraan tidak jauh berbeda dengan masa-masa sebelumnya, yaitu dekat dengan tempat
setelah salat magrib sampai masuk waktu Isya dan setelah salat subuh sampai tinggalnya mapun di
menjelang matahari terbit. daerah lain, yang dinilai
sangat baik untuk
tujuan tersebut.
Bagi sebagian orang tua yang menginginkan anaknya lebih mendalami ilmu
Islam, atau menginginkan anaknya menjadi seorang ulama atau kiai, mereka
akan mencarikan sebuah pesantren, baik di daerah yang dekat dengan tempat
tinggalnya mapun di daerah lain, yang dinilai sangat baik untuk tujuan tersebut.
Bahkan pada masa kolonial sampai dengan dua dekade setelah kemerdekaan
bangsa Indonesia, masyarakat di beberapa desa menginginkan salah satu
warganya menjadi kiai atau paling tidak seorang ustadz. Untuk itu, mereka
secara bergotong-royong mengumpulkan uang, untuk membiayai warganya
yang terpilih untuk menjadi santri pada satu pesantren terkenal dengan
79

