Page 94 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 94
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
Kiai sedang mengajar kitab
kepada para santri di lingkungan
pesantren Cipasung, Tasikmalaya.
Sumber: Dokumen Pesantren Cipasung,
Tasikmalaya.
Sebenarnya pesantren bukanlah satu satunya lembaga pendidikan tradisional
Islam. Masih ada lembaga pendidikan tradisional lainnya yang disebut dengan
nama “pengajian”, yang diselenggarakan di langgar atau tajuk (masjid kecil
atau mushala), bahkan kadangkala di rumah seorang guru (ustadz atau
mu’alim). Materi pelajaran yang diberikan kepada peserta didik atau santri
relatif sederhana, yaitu pelajaran membaca Al-Quran beserta ilmu tata baca
al-Quran (tajwid) yang sederhana, dengan harapan mereka dapat membaca
dan menghapal ayat-ayat Al-Quran dengan baik dan benar. Umumnya ayat-
ayat Quran yang dihapal oleh para santri berasal dari surat-surat pendek yang
diperlukan nanti dalam menegakkan ibadah salat.
Di samping pengenalan huruf Al-Quran atau huruf Arab, para santri juga diberi
pelajaran tentang salat dan cara bersuci (taharah) atau membersihkan diri dari
hadas (kotoran) kecil dan besar, yang merupakan salah satu prasyarat penting
dalam melaksanakan kewajiban beribadah sehari-hari. Umumnya, peserta
didik atau santri pengajian berusia sekitar 6 sampai dengan 13 tahun, atau
seusia dengan rata-rata siswa sekolah dasar. Bagaimana suasana pengajian ini
berlangsung, dapat disimak dari tulisan Snouck Hurgronje di bawah ini:
Het koer’an onderwijs wordt uit den aard der zaak aan elken
leerlingafzonderlijk gegeven. Wel verzamelen zich de scholieren hetzij in
een langgar of ander vertrek of in het voorhuis van den goeroe, maar
een voor een zetten zij zich tegenover den leeraar, om gedurende 1/4
of 1/2 uur onder zijne leiding hunne taak op te zinggen, en terwijl een
jongen onder handen van den goeroe is, zitten de anderen, elk voor zich,
78

