Page 101 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 101
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
Pondok Pesantren Gunungpuyuh,
Kota Sukabumi.
Di Jawa Barat, kiai yang
kemudian dianggap berprestasi
melebihi kiai lainnya di wilayah
tersebut, diberi gelar kehormatan
tambahan, yaitu nama desa atau
kampung di mana pesantrennya
berada, seperti KH. Ahmad
Sanusi yang diberi gelar Ajengan
Gunungpuyuh.
Sumber: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya.
berada. Sebagai contoh, Haji Ahmad Sanusi disebut oleh masyarakat Sukabumi
dan Bogor dengan nama Ajengan Gunungpuyuh (pesantrennya berada di
kampung Gunungpuyuh, kota Sukabumi), Haji Abdoerrachim mendapat
sebutan Ajengan Cantayan (pesantrennya berada di Cantayan, Sukabumi) dan
Haji Ahmad Satibi yang pesantrennya berada di kampung Gentur disebut oleh
masyarakat Cianjur dengan nama Ajengan Gentur.
12
Di sebagian wilayah Aceh Darussalam juga mempunyai tradisi relatif sama dengan
di Jawa Barat. Beberapa ulama yang memimpin dayah juga mendapat gelar
dengan nama daerahnya, misalnya Tuanku Musa yang lahir di Kuta Keumala
dan mengelola dayah yang diwariskan orang tuanya di Kuta Keumala, namanya
pun berubah menjadi Tuanku Raja Keumala. Demikian pula Teungku Ahmad
Hasbalah yang memimpin dayah di Indrapuri, nama dikenal dengan Teungku
Ahmad Hasballah Indrapuri. Dayah atau pesantrennya ini merupakan salah satu
dayah di Aceh Darussalam yang mengajarkan dan mengembangkan ajaran
Wahabi. Ketenaran kiai, ajengan, syaikh atau teungku cikinilah menjadikan
13
pesantren atau dayah, menjadi favorit di kalangan para santri, khususnya para
santri kelana.
Walaupun beberapa ustadz atau calon kiai mempunyai latar belakang akademik
atau pesantren yang sama, dalam mengembangkan dirinya mereka sangat
bervariasi. Salah satu faktor yang paling menentukan perkembangan atau
kemandegan sebuah pesantren adalah faktor mentalite sang kiai. Artinya
apakah sang kiai mempunyai jiwa dan semangat sebagai seorang agensi,
atau sekedar fotokopi bapak atau gurunya? Seperti telah disampaikan oleh
85

