Page 105 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 105
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
dikatakan relatif sedikit. Walaupun demikian, perhatian pengasuh pesantren
terhadap kelompok ini justru lebih lebih tinggi dibandingkan perhatiannya Tingginya perhatian
terhadap santri-santri lainnya. kiai selaku pemimpin
dan guru utama
terhadap kelompok
Tingginya perhatian kiai selaku pemimpin dan guru utama terhadap kelompok santri kelana karena
ini karena dua hal. Pertama, seperti telah disinggung di atas, umumnya santri dua hal. Pertama,
seperti telah
kelana telah berbekal ilmu pengetahuan yang relatif tinggi yang mereka peroleh disinggung di atas,
dari orang tuanya atau pesantren lain. Kedua, sebagian dari mereka merupakan umumnya santri kelana
titipan dari sesama kolega kiai, yang sedang mempersiapkan anak-anaknya telah berbekal ilmu
untuk menjadi penggantinya kelak sebagai pemimpin dan pengelola pesantren. pengetahuan yang
Dan umumnya anak-anak kiai yang dipersiapkan sebagai kader kiai, tidak hanya relatif tinggi yang
dititipkan kepada satu pesantren saja melainkan ke beberapa pesantren secara mereka peroleh dari
orang tuanya atau
berpindah-pindah, dalam jangka waktu yang mereka rancang sebelumnya. pesantren lain. Kedua,
Dengan cara berpindah-pindah dari satu pesantren ke pesantren lainnya, sebagian dari mereka
mereka dapat memperdalam ilmu yang diminatinya, dan secara tidak langsung merupakan titipan
juga melakukan studi banding, sehingga penguasaan ilmu keagamaannya dari sesama kolega
kiai, yang sedang
semakin meningkat. Misalnya adalah Wahab Hasbullah, yang sebagai salah mempersiapkan anak-
satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) yang kemudian menjadi Rois Am Syuriah NU anaknya untuk menjadi
menggantikan Kiai Haji M. Hasyim Asy’ari. Ia adalah putera Kiai Haji Hasbulloh penggantinya kelak
Said, pengasuh pondok pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Pada sebagai pemimpin dan
usia remaja, ia telah mempelajari buku-buku elementer tentang teologi Islam, pengelola pesantren.
jurisprudensi Islam dan tata bahasa Arab. Untuk orang awam, pengetahuannya
itu dinilai sudah cukup tinggi. Namun orang tuanya tidak berpendapat seperti
itu, ia disuruh untuk memperdalam pengetahuannya ke beberapa pesantren,
misalnya ke pesantren Pelangitan di Tuban selama satu tahun, kemudian pindah
ke pesantren Mojosari di Nganjuk selama empat tahun. Di pesantren ini ia
mendapat bimibingan dari dua orang kiai. Salah satu kitab yang diperdalam di
bawah bimbingan dua kiai itu adalah kitab Fathul Mu’in.Setelah dari pesantren
Nganjuk, ia masih berkelana ke berapa pesantren, antara lain ke pesantren
Cempaka selama enam bulan dan pesantren Tawangsari yang letaknya tidak jauh
dari kota Surabaya. Akhirnya ia memperdalam ilmunya di pesantren Tebuireng,
Jombang yang sekaligus mempertemukannya dengan kiai muda yang menjadi
pemimpin pesantren itu, Kiai Haji Hasyim Asy’ari, yang kemudian bersama-sama
mendirikan Nahdlatul Ulama.
17
Seperti halnya Wahab Hasbullah, Ahmad Sanusi juga mengelana ke beberapa
pesantren untuk meningkatkan ilmu pengetahuan keislamannya. Beberapa
pesantren yang pernah didatanginya antara lain: pesantren Sukamantri
pimpinan Kiai Haji Muhammad Siddik yang letaknya relatif dekat dari pesantren
ayahnya di Cantayan, kewedanaan Cibadak, Sukabumi-Jawa Barat. Kemudian
pindah ke pesantren Cilaku, Ciajag (keduanya di kabupaten Cianjur), pesantren
Gudang, Tasikmalaya, dan terakhir di pesantren Gentur, Cianjur. Setelah itu ia
mukim di Mekkah selama lima tahun. Setelah kembali ke Indonesia, sebelum
18
mendirikan pesantrennya sendiri, ia sempat membantu ayahnya mengelola
pesantren Cantayan.
89

