Page 137 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 137
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
BAB II
Pesantren, Madrasah dan
Sekolah Islam:
Dinamika dan Perkembangan
Kontemporer
Berbagai konferensi
internasional, reportase
erhatian masyarakat internasional terhadap pendidikan Islam—khususnya dan juga wawancara
yang tergolong tradisional—seperti madrasah, tiba-tiba meningkat sejak diselenggarakan pihak
dan lembaga asing
Pkebangkitan Taliban di Afghanistan pada 1996. Perhatian yang disertai tentang madrasah—
mispersepsi terus semakin meningkat pada masa pasca-Peristiwa 11 September khususnya dalam
2001 di Amerika Serikat. Berbagai konferensi internasional, reportase dan juga konteks Indonesia—
wawancara diselenggarakan pihak dan lembaga asing tentang madrasah— juga pesantren.
Persepsi [atau
khususnya dalam konteks Indonesia—juga pesantren. Persepsi [atau mispersepsi) mispersepsi) mereka
mereka terlihat dalam wacana yang sering mereka ajukan—secara agak tipikal— terlihat dalam wacana
apakah madrasah dan juga pesantren merupakan tempat persemaian benih- yang sering mereka
benih radikalisme (seeds of radicalism) yang berujung pada ‘jihadism', istilah lain ajukan—secara agak
yang sering digunakan media massa Barat untuk menyebut ‘terorisme’. tipikal—apakah
madrasah dan juga
pesantren merupakan
Tidak mudah meyakinkan orang-orang asing yang skeptis tentang madrasah tempat persemaian
—dan pesantren serta berbagai lembaga pendidikan Islam tradisional benih-benih radikalisme
lainnya—bahwa terlalu simplistis untuk menggeneralisasi madrasah di seluruh (seeds of radicalism)
kawasan Dunia Muslim sebagai ‘hotbed of radicalism’, berdasarkan persepsi yang berujung pada
‘jihadism”, istilah lain
dan pengamatan tentang madrasah di Afghanistan pada masa Taliban; atau yang sering digunakan
madrasah di Pakistan yang memang berada di luar kontrol otoritas pendidikan media massa Barat
di negara masing-masing. Karena itulah madrasah-madrasah di kedua negara untuk menyebut
ini hampir sepenuhnya berada di bawah kekuasaan ulama yang cenderung ‘terorisme’.
121

