Page 140 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 140

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    Modernisasi Pesantren: Komparasi dengan Surau





                                    Sejak masa penjajahan Belanda dan pascakemerdekaan di masa Presiden
                                    Sukarno, pesantren adalah lembaga pendidikan periferal dan marjinal. Pesantren
                                    pada masa ini lebih dipandang sebagai gejala pedesaan dan sekaligus simbol
                                    kekolotan, kejumudan dan keterbelakangan. Meski sebenarnya sejak 1920-an
                                    pesantren mulai mengadopsi beberapa unsur kemoderenan dalam pengelolaan
                                    lembaga dan kandungan pendidikannya, pesantren tetap saja dipandang
                                    sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional.


                                    Keadaannya tidak banyak berubah dalam dasawarsa pertama masa kekuasaan
                                    Orde  Baru.  Hubungan  yang  kurang  mulus—bahkan  mungkin  dapat  disebut
                                    ketegangan—antara  umat  Islam  dengan  pemerintahan  Presiden  Soeharto
                                    membuat pesantren tetap berada di pinggir. Meski demikian, sejak pertengahan
                                    1970-an, sebagai konsekuensi dari  developmentalism Orde Baru, pesantren
                                    juga dipandang perlu untuk dimodernisasi. Pemerintahan Presiden Soeharto
                                    memandang penting bagi pesantren tidak hanya menjadi ‘obyek’ pembangunan,
                                    tetapi semestinya menjadi subyek bagi pembangunan ekonomi dan sosial.
               SKB Tiga Menteri
             merupakan salah satu
              tonggak terpenting    Untuk kepentingan itu, Mukti Ali sebagai menteri agama memikul tugas khusus
                dalam integrasi     memodernisasi pesantren.  Entry point  modernisasi pesantren itu adalah SKB
              pendidikan Islam ke   Tiga Menteri (Menteri Agama, Menteri P&K, dan Menteri Dalam Negeri) No.
              dalam mainstream
             pendidikan nasional,   6 tahun 1975 yang menggariskan agar madrasah—yang tentu saja terdapat
                 dan sekaligus      di pesantren umumnya—pada semua jenjang sama posisinya dengan sekolah
             peningkatan kualitas   umum; dan untuk itu, kurikulum madrasah haruslah 70 persen pelajaran umum
            SDM yang belajar pada   dan 30 persen pelajaran agama .
                                                                  1
               berbagai lembaga
               pendidikan Islam
              lain. Lebih jauh lagi,   SKB Tiga  Menteri merupakan  salah satu tonggak  terpenting dalam  integrasi
             kebijakan Tiga Menteri   pendidikan Islam ke dalam  mainstream pendidikan nasional, dan sekaligus
               ini pada dasarnya    peningkatan kualitas SDM yang belajar pada berbagai lembaga pendidikan
              merupakan langkah     Islam lain. Lebih jauh lagi, kebijakan Tiga Menteri ini pada dasarnya merupakan
             awal bagi ‘reintegrasi’   langkah awal bagi ‘reintegrasi’ ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum.
             ilmu-ilmu agama dan
               ilmu-ilmu umum.
                                    Meski kebijakan Tiga Menteri ini semula mendapat tantangan keras dari kalangan
                                    pengelola  pendidikan  Islam—pesantren  dan  madrasah  khususnya—tetapi
                                    gelindingan modernisasi madrasah dan pesantren sudah tidak bisa dimundurkan
                                    lagi. Dalam gelindingan modernisasi, madrasah dan pesantren berhadapan
                                    dengan krisis identitas yang memang sejak semula sudah dikhawatirkan mereka
                                    yang menentang kebijakan tersebut. Kekhawatiran itu adalah bahwa muatan
                                    pelajaran umum yang begitu besar, pada gilirannya dapat menghilangkan misi,
                                    substansi, dan karakter pendidikan Islam itu sendiri.








                    124
   135   136   137   138   139   140   141   142   143   144   145