Page 144 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 144
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
keunggulan kompetitif tersebut. Di sini, masyarakat pendukung pesantren
Situasi sosiologis diharapkan dapat menyediakan berbagai prasarana dan sarana pendukung yang
umat Islam Indonesia, lebih memadai bagi terselenggaranya pendidikan yang mampu mendorong
yang dalam beberapa
dasawarsa terakhir penanaman dasar-dasar keunggulan kompetitif tersebut.
menemukan ‘new
attachment’ kepada Ketiga, penguatan kelembagaan dan manajemen. Perubahan-perubahan
Islam merupakan
modal yang sangat kebijakan pendidikan nasional—misalnya yang menekankan pada peran
berharga bagi pesantren sebagai ‘community-based education’—dan tantangan-tantangan
pesantren. Fenomena global mengharuskan pesantren memperkuat dan memberdayakan
kemunculan ‘pesantren kelembagaannya. UU Yayasan yang baru juga menghendaki pesantren meninjau
urban’, ‘sekolah
Islam unggulan’ dan merumuskan kembali kelembagaan pesantren dan hubungannya dengan
dan sebagainya para pelaksana kependidikan; madrasah dan/atau sekolah. Kelembagaan
merefleksikan, bahwa pesantren semakin bertitiktolak pada prinsip-prinsip kemandirian (otonom),
pendidikan pesantren akuntabilitas dan kredibilitas.
atau yang bermodel
pesantren tetap
mendapat tempat yang Dalam mewujudkan quality education pesantren kian memberikan ruang gerak
semakin kuat.
lebih besar kepada para pelaksana pendidikan, khususnya kepala madrasah
atau kepala sekolah agar: Pertama, dapat mengorganisasi dan memberdayakan
sumber daya yang ada untuk memberikan dukungan yang memadai bagi
terselenggaranya proses belajar mengajar yang maksimal, bahan pengajaran
yang cukup, dan pemeliharaan fasilitas yang baik; kedua, dapat berkomunikasi
secara teratur dengan kepemimpinan pesantren (dan/atau yayasan), guru, staf,
orangtua, siswa, masyarakat, dan pemerintah setempat.
Selanjutnya, kian banyak pesantren yang dikelola dengan manajemen moderen
sehingga pendidikan yang diselenggarakannya dapat lebih efisien dan efektif.
Prinsip-prinsip manajemen moderen seperti ‘total quality management’ (TQM)
atau ‘corporate good governance’ yang sudah mulai diterapkan pada sementara
Secara historis surau lembaga pendidikan lain, agaknya dapat pula mulai dikaji penerapannya di
sebagai lembaga lingkungan pesantren.
pendidikan Islam yang
lengkap merupakan
komplek bangunan Meski pesantren menghadapi berbagai tantangan, seperti dikemukakan di atas,
yang terdiri dari masjid, peluang bagi pendidikan pesantren jelas masih tetap besar. Situasi sosiologis
bangunan-bangunan umat Islam Indonesia, yang dalam beberapa dasawarsa terakhir menemukan
untuk tempat belajar,
dan surau-surau kecil ‘new attachment’ kepada Islam merupakan modal yang sangat berharga bagi
yang sekaligus menjadi pesantren. Fenomena kemunculan ‘pesantren urban’, ‘sekolah Islam unggulan’
pemondokan murid- dan sebagainya merefleksikan, bahwa pendidikan pesantren atau yang
murid yang belajar di bermodel pesantren tetap mendapat tempat yang semakin kuat. Kini tinggal
surau.
bagi pesantren itu sendiri untuk memberdayakan dirinya untuk mampu benar-
benar menjadi ‘pendidikan alternatif’ dalam menghadapi arus perubahan.
Berbeda dengan pesantren yang tetap bertahan di tengah berbagai tantangan,
‘surau’ yang juga merupakan lembaga pendidikan Islam tradisional tidak mampu
bertahan di tengah berbagai perubahan. Surau di Sumatera Barat pada pada
128

