Page 147 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 147

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3


























                                                                                       Pergurusan Diniyan Putri
                                                                                       Padang Panjang.
                                                                                       Adopsi kelembagaan
                                                                                       pesantren di Sumatera
                                                                                       Barat mulai terjadi ketika
                                                                                       modernisasi pesantren kian
                                                                                       mendapatkan momentumnya
                                                                                       sejak 1970-an.
                                                                                       Sumber: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya.

           Memang sulit mengetahui waktu yang pasti kapan adopsi dan penggunaan
           istilah pesantren mulai meluas di Sumatera Barat. Bisa dipastikan,  penggunaan
           istilah “pesantren” yang sebenarnya secara historis lebih merupakan tradisi
           “Jawa”, bukan karena latah mengikuti hegemoni budaya Jawa masa Orde
           Baru. Tetapi didasari kesadaran tentang “stigma” negatif yang sudah terlanjur
           dilekatkan banyak warga Minang sendiri terhadap “surau”. Apalagi, seperti
           dikemukakan di atas, istilah “surau” sebagai nomenklatur telah terlanjur lenyap
           dalam wacana dan kelembagaan pendidikan.


           Adopsi kelembagaan pesantren di Sumatera Barat mulai terjadi ketika modernisasi
           pesantren kian mendapatkan momentumnya sejak 1970-an, sementara
           surau sebagai lembaga pendidikan semakin terpinggir. Hasilnya, sekali lagi,
           nomenklatur ‘surau’ sebagai lembaga pendidikan Islam menghilang, bahkan di
           Sumatera Barat sendiri, sementara istilah ‘pesantren’ semakin populer dan kian
           banyak didirikan. Menurut data Departemen Agama (2002), di Sumatera Barat
           terdapat 39 pondok pesantren; dan 10 di antaranya juga menyelenggarakan
           pendidikan formal, apakah madrasah atau sekolah umum.


           Salah  satu  eksperimen  yang  menonjol  dalam  adopsi  pesantren  di  Sumatera
           Barat adalah Pesantren Moderen Prof. DR. Buya Hamka di Pasar Usang, sekitar
           20 kilometer dari kota Padang. Pesantren Moderen Buya Hamka ternyata
           merupakan eksperimen yang sukses. Pesantren ini bukan hanya dapat
           memberikan pendidikan agama kepada para santrinya, tetapi juga mampu
           menjadikan dirinya sebagai lembaga pendidikan unggulan, termasuk dalam
           bidang umum sekalipun. NEM santri Ibtidaiyah dan Tsanawiyah-nya menduduki
           rangking salah satu yang terbaik, jika tidak yang terbaik di Sumatera Barat .





                                                                                                 131
   142   143   144   145   146   147   148   149   150   151   152