Page 148 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 148

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    Meski  sukses,  jelas  Pesantren  (Buya  Hamka  atau  semacamnya)  tidak  bisa
             Peran surau agaknya    menggantikan  peran  dan  fungsi  surau  tradisional.  Sekali  lagi,  surau  dalam
               bisa direvitalisasi
             untuk menjadi sekedar   sistem sosial-budaya dan keagamaan Minang lebih daripada sekedar institusi
             semacam langgar atau   pendidikan keagamaan. Ia sekaligus merupakan institusi adat dan budaya.
               mushalla; menjadi    Namun, setidaknya dari sudut pendidikan keislaman, dan sekaligus reproduksi
            institusi awal dan dasar   ulama, keberhasilan Pesantren Moderen Buya Hamka hemat saya bisa
            bagi anak-anak Minang
               setidak-tidaknya     direduplikasi di tempat lain di Sumatera Barat.
             untuk belajar mengaji.
              Jika masih mungkin,   Pada pihak lain, peran surau agaknya bisa direvitalisasi untuk menjadi sekedar
             surau seperti ini juga
              bisa juga sekaligus   semacam langgar atau mushalla; menjadi institusi awal dan dasar bagi anak-
              direvitalisasi untuk   anak Minang setidak-tidaknya untuk belajar mengaji. Jika masih mungkin, surau
              sosialisasi nilai-nilai   seperti ini juga bisa juga sekaligus direvitalisasi untuk sosialisasi nilai-nilai adat,
               adat, budaya dan     budaya dan tradisi keminangan.
              tradisi keminangan.

                                    Karena modernisasi dan urbanisasi, surau agaknya memang tidak lagi menjadi
                                    ‘kamar’ bagi anak-anak laki, atau menjadi tempat diam bagi laki-laki tua yang
                                    ditinggal wafat oleh istrinya; agaknya juga tidak lagi menjadi tempat bermalam
                                    bagi laki-laki pedagang “babelok”. Tetapi setidak-tidaknya surau masih bisa
                                    secara efektif dimanfaatkan untuk kepentingan transmissi nilai-nilai dasar
                                    keagamaan dan adat istiadat Minang yang konon, “tak lakang di paneh, tak
                                    lapuak di hujan”.


                                    Namun penting dicatat, pesantren juga mengalami perubahan yang sangat
                                    signifikan karena berlangsungnya modernisasi pesantren di Jawa sejak masa
                                    awal  Orde  Baru.  Dalam  perubahan-perubahan  itu,  pesantren  menyesuaikan
                                    diri dengan membuka peluang untuk memiliki empat pilihan jenis pendidikan.
                                    Pertama, pendidikan yang berkonsentrasi pada  tafaqquh fi al-din; kedua,
                                    pendidikan berbasis madrasah; ketiga, pendidikan berbasis sekolah umum; dan
                                    keempat, pendidikan berbasis ketrampilan. Keempat pilihan ini memang tidak
                                    harus dipertentangkan, karena pilihan-pilihan ini dapat dikombinasikan.


                                    Tetapi  berbagai  perubahan  baik dalam  jenis  pendidikan  yang dapat
                                    diselenggarakan dan terdapatnya harapan-harapan sosial yang beragam,
                                    menimbulkan kekhawatiran yang cukup intens di kalangan pesantren tentang
                                    identitas dan jati diri lembaga ini. Kekhawatiran itu khususnya menyangkut
                                    tiga fungsi pokok utama pesantren secara konvensional. Pertama, transmissi
                                    dan transfer ilmu pengetahuan Islam; kedua, pemeliharaan tradisi Islam; dan
                                    ketiga, penciptaan kader-kader ulama. Kemunculan pesantren-pesantren di
                                    Sumatera Barat dalam beberapa dasawarsa terakhir dapat dikatakan merupakan
                                    pencerminan dari kekhawatiran itu. Sementara pada waktu yang sama juga
                                    dituntut memenuhi harapan-harapan sosial lainnya, jika pesantren di Sumatera
                                    Barat dapat tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang baik.










                    132
   143   144   145   146   147   148   149   150   151   152   153