Page 149 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 149
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
Transformasi Madrasah
Kembali kepada soal peningkatan perhatian dan minat kalangan internasional
pada madrasah, patut disimak beberapa hal berikut:
"Sejak Taliban memasuki Kabul pada 26 September 1996, media Barat
bergulat memecahkan pertanyaan tentang watak radikalisme Islam
dan hubungannya dengan pendidikan agama. Sejumlah komentator
dengan cepat menyebut sumber kebangkitan kaum radikal tersebut Sejak Taliban
memasuki Kabul
pada madrasah, yakni sekolah agama yang diabdikan untuk studi tradisi pada 26 September
keilmuan Islam. Sebuah artikel yang banyak dikutip dalam New York 1996, media Barat
Times Magazine melaporkan, terdapat sekitar satu juta murid belajar pada bergulat memecahkan
kira-kira 10.000 madrasah di Pakistan; dan Islam militan berada pada pertanyaan tentang
watak radikalisme
jantung kebanyakan madrasah itu. Banyak komentator lain mencurigai Islam dan hubungannya
adanya semangat yang sama militannya berada pada jantung pendidikan dengan pendidikan
madrasah di mana-mana”. agama.
Itulah awal pengantar Indonesianis, Robert W Hefner bertajuk ‘Introduction: The
Culture, Politics and Future of Muslim Education', dalam buku yang suntingannya
bersama Muhammad Qasim Zaman, Schooling Islam: The Culture and Politics
of Modern Islamic Education (2007) . Buku ini tak salah lagi merupakan
4
salah satu bentuk respon terhadap kecurigaan-kecurigaan tersebut dengan
mengungkapkan berbagai perkembangan dan realitas madrasah di beberapa
penjuru Dunia Muslim yang jelas tidak seragam. Madrasah secara historis bisa
berarti pendidikan Islam tingkat dasar, menengah dan tinggi (setingkat ‘college’).
Lebih daripada itu, madrasah terkait dengan berbagai aspek kehidupan Muslim
lainnya, seperti budaya, sosial, politik, dan sebagainya.
Kenyataan itu bisa dilihat dari tulisan-tulisan yang ada dalam buku ini, yang
merupakan kajian relatif komprehensif tentang madrasah di masa moderen dan
kontemporer. Memang ada beberapa kajian lain, seperti karya George Makdisi
(1981), Jonathan Berkey (1992), atau Michael Chamberlain (1994); tetapi
tentang madrasah di masa klasik dan abad pertengahan.
Meski demikian, madrasah moderen jelas dalam segi-segi tertentu merupakan
kesinambungan madrasah abad pertengahan. Sejak masa ini madrasah bagi
banyak masyarakat Muslim tidak sekedar lembaga pendidikan; ia menjadi
lembaga sangat penting bagi identitas Muslim. Itulah argumen pokok Jonathan
Berkey dalam ‘Madrasas Medieval and Modern: Politics, Education, and the
Problem of Muslim Identity’ (2007). 5
133

