Page 154 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 154

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    Karena itu, pemahaman dan apresiasi lebih baik terhadap madrasah Indonesia
                                    pastilah perlu dikembangkan terus, baik di dalam maupun luarnegeri.

                                    Transformasi madrasah—baik yang berada di lingkungan pesantren, maupun
                                    yang  berdiri  sendiri—juga  terlihat  jelas  dalam  karya  Asrori  S  Karni  yang
                                    merupakan hasil jurnalisme investigatif dan eksplanatif  . Karya ini, meski hanya
                                                                                        9
                                    menyajikan prisma-prisma madrasah dan beberapa lembaga pendidikan Islam
                                    lainnya, secara jelas mengungkapkan bagaimana proses-proses transformasi
                                    madrasah tersebut. Karena itu, pandangan dan persepsi tipikal tentang
                                    madrasah, pesantren, dan juga tentang perguruan tinggi Islam yang selama ini
                                    beredar baik di dalam masyarakat Indonesia sendiri maupun di kalangan asing
                                    mestilah direvisi dan diperbaharui.


                                    Proses transformasi itu—sebagaimana sudah banyak diketahui—bermula pada
                                    1970-an ketika Menteri Agama Mukti Ali memperkenalkan perubahan kurikulum
                                    madrasah dari yang kurang lebih 100 persen agama menjadi 70 persen umum
            Nasib tragis dialami MA   dan 30 persen agama. Perubahan ini membuka jalan bagi penyetaraan madrasah
             PK, ketika Departemen
            Agama beberapa tahun    dengan sekolah umum, yang pada akhirnya ditetapkan dalam UUD Sisdiknas
            lalu menghapuskan MA    No 2/1989, yang kemudian direvisi menjadi UU No 20/2003. Transformasi
             PK dan menjadikannya   inilah  yang  kemudian  saya  sebut  sebagai  pengarusutamaan  (mainstreaming)
                sebagai jurusan     pendidikan Islam ke dalam pendidikan nasional secara keseluruhan; dan proses
              belaka pada sistem
                MA yang telah       mainstreaming ini jelas merupakan langkah yang tidak lagi bisa dimundurkan
              didominasi jurusan-   (point of no return).
             jurusan umum—inilah
             marjinalisasi tafaqquh
             fid-ddin pada tingkat   Transformasi seperti itu dalam pengamatan dan bacaan saya hampir tidak
            MA yang menimbulkan     mendapat resistansi dari masyarakat Muslim—yang merupakan pendiri, pemilik
               dampak luar biasa    dan pengelola sebagian besar madrasah; dan, sekali lagi, sebagian besar
              terhadap perguruan    madrasah memang milik masyarakat, terbalik dengan sekolah umum yang
                 tinggi Islam.
                                    sebagian besar adalah negeri. Nyaris absennya resistansi masyarakat Muslim
                                    tersebut berkaitan dengan adanya harapan yang sudah lama diperjuangkan
                                    umat Islam untuk kesetaraan madrasah dengan sekolah umum, sehingga anak-
                                    anak mereka dapat melanjutkan ke sekolah umum, dan juga setelah selesai
              Sejak milenium baru   Madrasah    Aliyah  (MA)  dapat  meneruskan  pendidikan  ke  perguruan  tinggi
               2000 terus terjadi   umum—tidak hanya ke IAIN seperti pada masa-masa sebelumnya.
              banyak perubahan
              pada sekolah Islam
             dan lembaga-lembaga    Ekuivalensi itu memang memunculkan konsekuensi-konsekuensi yang tidak
               pendidikan Islam     diharapkan (unintended consequences), dan tidak jarang membuat sebagian kita
               lainnya; satu kata   ‘meratap’ dan ‘menyesal’. Penetapan ekuivalensi itu misalnya saja mengharuskan
             kunci yang menandai    madrasah menerapkan kurikulum sekolah umum yang ditetapkan Departemen
             perubahan itu adalah
            semakin meningkatnya    Pendidikan, bermula dengan Kurikulum 1994. Pada sisi lain, untuk memelihara
               kualitas dan daya    ‘karakter pendidikan Islam’, madrasah harus memiliki bobot mata pelajaran
             tarik sekolah-sekolah   agama lebih banyak. Hasilnya, beban pelajaran secara keseluruhan di madrasah
                  tersebut.
                                    menjadi jauh lebih berat dibandingkan sekolah umum.







                    138
   149   150   151   152   153   154   155   156   157   158   159