Page 156 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 156

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    Penting  segera  dikatakan,  fenomena  sekolah  Islam—sekali  lagi  di  samping
                                    madrasah—bukan sekedar gejala 1980-an atau 1990-an. Sekolah Islam telah
                                    muncul jauh sebelumnya; persisnya pada awal abad ke-20 ketika gelombang
                                    modernisme Islam menemukan momentumnya di negeri ini. Pengkaji sejarah
                                    pendidikan Islam di Indonesia pastilah tidak lupa misalnya dengan Sekolah
                                    Adabiyah di Padang yang didirikan Haji Abdullah Ahmad, salah seorang
                                    modernis awal di kawasan ini. Selanjutnya semacam sekolah-sekolah Islam
                                    yang pada dasarnya mengadopsi model pendidikan Belanda dikembangkan
                                    Muhammadiyah. Kurikulum sekolah-sekolah ini mengadopsi kurikulum
                                    pemerintah Hindia Belanda. Bedanya, sekolah-sekolah Islam ini memperkenalkan
                                    pendidikan agama, yang dalam istilah Muhammadiyah disebut sebagai met de
                                    Qur’an, dengan al-Qur’an.


                                    Tetapi harus diakui sekolah-sekolah Islam tidak berhasil meningkatkan kualitas
                                    dan daya tariknya sampai akhir kekuasaan Belanda dan Jepang, dan bahkan
                                    sampai masa tiga dasawarsa setelah kemerdekaan negeri ini. Faktor utamanya
                                    sudah jelas; pertama, tidak terdapat dukungan finansial memadai, yang
                                    memungkinkan terjadinya upaya peningkatan kualitas; kedua, belum tersedianya
                                    sumber daya yang mampu mengelola dan mengembangkan sekolah-sekolah
                                    Islam tersebut. Keadaan yang hampir sama—hanya sedikit lebih baik dialami
                                    juga oleh sekolah-sekolah negeri.


                                    Akibatnya, banyak orangtua yang kaya atau pejabat enggan mengirim anak-
                                    anak mereka ke sekolah-sekolah Islam, dan bahkan ke sekolah negeri. Hanya
                                    kalangan bawah saja yang mengirim anaknya ke sekolah Islam atau sekolah
                                    negeri. Sekolah-sekolah yang menjadi favorit mereka adalah sekolah Katolik
                                    atau Kristen  yang lebih menjanjikan mutu dan disiplin, yang masih menerapkan
                                    disiplin model Belanda. Sampai akhir dasawarsa 1970an, bagi orang kaya dan
                                    pejabat, mengirim anak-anak ke sekolah-sekolah seperti ini sangat bergengsi;
                                    dan karena itu ia juga menjadi salah satu simbol status.


                                    Keadaannya mulai berubah, pelahan tapi pasti, sejak 1970an. Perintis perubahan
                                    itu, tidak lain adalah sekolah Islam al-Azhar  yang terletak di lingkungan Masjid
                                    Agung  al-Azhar,  Kebayoran  Baru,  yang  merupakan  kawasan  elit  di  Jakarta.
                                    Terkait erat dengan visi kemoderenan dan keindonesiaan ulama besar, Prof DR
                                    Buya Hamka, sekolah al-Azhar menjadi model bagi sekolah-sekolah Islam yang
                                    berkecambah tidak hanya di Jakarta, tetapi juga kota-kota lain di Indonesia sejak
                                    1980-an. Al-Azhar sendiri membuka cabang di berbagai kota; lalu ada al-Izhar
                                    (Pondok Labu), Madania (Parung), as-Salam (Solo), SMU Insan Cendekia (Serpong
                                    dan Gorontalo), SMU Athiroh (Makassar), Internat al-Kautsar (Sukabumi), dan
                                    banyak lagi untuk didaftar satu persatu.


                                    Sekolah-sekolah ini dikelola secara profesional, dengan sumber daya manusia
                                    yang baik; dan tidak kurang pentingnya, dengan dukungan finansial yang amat
                                    baik. Karena itu, tidak heran kalau sekolah-sekolah ini berhasil meningkatkan





                    140
   151   152   153   154   155   156   157   158   159   160   161