Page 161 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 161
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
Lebih daripada sekadar perluasan mandat, kehadiran UIN memungkinkan Alasan Menteri
terjadinya ‘reintegrasi’ di antara ilmu-ilmu yang bersumber dari ayat-ayat Agama Maftuh
Qur’aniyah pada satu pihak dengan ilmu-ilmu yang bersumber dari ayat-ayat Basuni menghentikan
kauniyah pada pihak lain. Sudah terlalu lama terjadi dikhotomi di antara kedua perubahan IAIN-
IAIN lain menjadi
bentuk ayat-ayat Ilahiyah ini. Akibatnya sudah jelas, umat Islam tertinggal UIN, bahwa setelah
dalam ilmu-ilmu kauniyah. Padahal, kesempurnaan pengamalan Islam tidak menjadi UIN, menurut
hanya memerlukan ilmu-ilmu Qur’aniyyah, tetapi juga ilmu-ilmu kauniyah. pengamatannya
Kesejahteraan dunia umat Islam tidak mungkin bisa dicapai dengan baik tanpa fakultas agama menjadi
penguasaan atas ilmu-ilmu kauniyah. tertinggal.
Karena itu, baik secara epistimologis maupun realitas dan praksis kehidupan
Islam dan umat Muslimin, reintegrasi ilmu-ilmu Qur’aniyyah dan kauniyah
merupakan keharusan sejarah. Menunda reintegrasi itu hanyalah melestarikan
keterpinggiran dan kekalahan.
Lebih daripada itu, perwujudan UIN merupakan tahap lebih lanjut dari
pengarusutamaan (mainstreaming) lembaga pendidikan tinggi Islam.
Pengarusutamaan itu sebenarnya telah dimulai ketika dalam UU Sisdiknas 1999,
madrasah diakui dan dinyatakan sebagai equivalen dengan sekolah umum. Dari
segi ini, kemunculan UIN merupakan konsekuensi logis dari mainstreaming yang
sudah berlangsung pada tingkat madrasah.
Dengan mainstreaming pendidikan tinggi Islam, terbukalah peluang bagi UIN
untuk berkompetisi dengan perguruan tinggi lain di tanah air; tidak hanya untuk
mencapai ekspektasi keunggulan akademis, tetapi juga sekaligus ekspektasi
sosial—harapan masyarakat luas agar PTAIN dapat memainkan peranan lebih
UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Kehadiran UIN memungkinkan
terjadinya ‘reintegrasi’ di antara
ilmu-ilmu yang bersumber dari
ayat-ayat Qur’aniyah pada
satu pihak dengan ilmu-ilmu
yang bersumber dari ayat-ayat
kauniyah pada pihak lain.
Sumber: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya.
145

