Page 164 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 164
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
IAIN Palu. Eksistensi IAIN dan
STAIN dalam banyak segi, pada
dasarnya, turut melestarikan
‘dikotomi’ antara pendidikan
agama (Islam) dan pendidikan
umum.
Sumber: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya.
Ketiga, munculnya kebijakan Departemen Agama sendiri yang berimplikasi pada
kian berkurangnya sumber input bagi IAIN/STAIN khususnya. Tidak ada misalnya
kebijakan afirmatif guna mendorong lebih banyak MA Keagamaan, yang dapat
memperbanyak potensi input IAIN/STAIN dan fakultas-fakultas agama pada UIN.
Hal ini didasari alasan, MA Keagamaan tidak tercantum dalam UU Sisdiknas.
Karena itu, sebaliknya Ditjen Pendidikan Islam mengeluarkan kebijakan phasing
out MA Keagamaan, dengan tidak boleh lagi menerima murid. Akibatnya
bisa dibayangkan; tahun-tahun mendatang kian tidak ada lulusan MA yang
memiliki latarbelakang ilmu agama memadai untuk memasuki IAIN/STAIN/
fakultas-fakultas agama UIN. Akibat akhirnya, jumlah mahasiswa IAIN/STAIN
kian berkurang, yang bahkan akhirnya membuat mereka tidak bisa lagi survive.
Karena itu, jika ada keinginan agar IAIN/STAIN dan fakultas-fakultas agama UIN
Dari sudut integrasi
ilmu-ilmu umum tidak marjinal, yang diperlukan bukan kebijakan menghentikan perubahan IAIN
dengan ilmu-ilmu menjadi UIN, tapi kebijakan khusus yang mendorong kian tersedianya potensi
agama, PTAIS dalam input bagi mereka. Ini tidak bisa lain, kecuali membangkitkan kembali MA
bentuk universitas
dapat dikatakan keagamaan dan pesantren tafaqquh fi al-din, yang berkonsentrasi dalam bidang
sebagai perintis dan keagamaan.
pendahulu integrasi
ilmu, yang kemudian— Sedangkan untuk menghasilkan calon-calon kiyai, gagasan Menteri Agama
seperti dibahas di
atas—diikuti oleh UIN. Maftuh Basuni untuk membentuk ‘ma’had ali’, pesantren tinggi, di beberapa
UIN dan IAIN seyogyanya segera diwujudkan sebagai kebijakan afirmatif. Jika
semua ini bisa dilakukan, eksistensi UIN tidak lagi perlu disesali, tapi justru
disyukuri karena membuka peluang lebih besar bagi anak-anak umat.
148

