Page 160 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 160
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
Menurut data Kementerian Agama 2009, jumlah mahasiswa enam UIN 71.402,
Eksistensi IAIN dan
STAIN dalam banyak mahasiswa IAIN 41.992 orang, mahasiswa STAIN 62.184 orang. Penting dicatat,
segi, pada dasarnya, mahasiswi mencapai lebih dari separo (53 persen) dari jumlah total populasi
turut melestarikan mahasiswa PTAIN.
‘dikhotomi’ antara
pendidikan agama Kemunculan UIN jelas lebih daripada sekedar perubahan nomenklatur atau
(Islam) dan pendidikan
umum. Perubahan kemunculan nomenklatur baru. Ia merupakan hasil dari proses-proses panjang
IAIN/STAIN menjadi perkembangan pendidikan Islam secara keseluruhan di Indonesia; dan bahkan
UIN dalam konteks juga terkait dengan perubahan-perubahan yang terjadi di tanahair, baik dalam
terakhir merupakan bidang pendidikan maupun kehidupan sosial, budaya, ekonomi, agama, politik
perluasan mandat dan sebagainya.
Perguruan Tinggi
Agama Islam (PTAIN).
Sebagai universitas, Jika dirunut secara historis, umat Islam Indonesia sejak masa penjajahan Belanda
UIN tidak hanya dapat telah memendam aspirasi sangat kuat untuk memiliki pendidikan tinggi, yang
tetap bergerak dalam memungkinkan anak-anak santri untuk melanjutkan pendidikan mereka.
ilmu-ilmu agama Islam, Aspirasi ini mulai terwujud dengan pembentukan PTAIN di Yogyakarta dan
tetapi juga dapat
bergerak dalam ilmu- ADIA (Akademi Dinas Ilmu Agama) di Jakarta yang masing-masing kemudian
ilmu umum. menjadi IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta
sepanjang akhir 1950-an. Selanjutnya, sejak awal 1960an, IAIN-IAIN lainnya
berdiri di berbagai ibukota provinsi, sehingga sampai awal 2002 jumlahnya
mencapai 14 IAIN di seluruh Indonesia. Sejak 1997 fakultas-fakultas cabang
IAIN yang terdapat di berbagai kotamadya dan kabupaten dilepaskan dari IAIN
induknya dan berubah menjadi STAIN, yang berjumlah 33 di seluruh Indonesia.
Sejak bermulanya perubahan IAIN Jakarta dan IAIN Yogyakarta menjadi UIN,
beberapa STAIN juga mengalami perubahan status menjadi IAIN.
Eksistensi IAIN dan STAIN dalam banyak segi, pada dasarnya, turut melestarikan
Lebih daripada
sekadar perluasan ‘dikhotomi’ antara pendidikan agama (Islam) dan pendidikan umum. Sesuai
mandat, kehadiran dengan undang-undang dan ketentuan tentang pendidikan tinggi yang lama,
UIN memungkinkan IAIN dan STAIN hanya memiliki mandat untuk bergerak dalam bidang yang
terjadinya ‘reintegrasi’ sering disebut sebagai ‘ilmu-ilmu agama’ (Islam), sejak dari syariah, tarbiyah,
di antara ilmu-ilmu tafsir-hadits, tasawuf, dakwah, adab dan semacamnya. IAIN dan STAIN pada
yang bersumber dari
ayat-ayat Qur’aniyah dasarnya tidak memiliki mandat untuk juga bergerak dalam ‘ilmu-ilmu umum’.
pada satu pihak
dengan ilmu-ilmu yang Perubahan IAIN/STAIN menjadi UIN dalam konteks terakhir merupakan
bersumber dari ayat- perluasan mandat Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAIN). Sebagai universitas,
ayat kauniyah pada UIN tidak hanya dapat tetap bergerak dalam ilmu-ilmu agama Islam, tetapi juga
pihak lain.
dapat bergerak dalam ilmu-ilmu umum. Berkat perubahan itu, di UIN Jakarta
misalnya, selain fakultas-fakultas ‘agama’, kini juga terdapat Fakultas Psikologi,
Fakultas Sains dan Teknologi, Fakultas Ekonomi dan Ilmu-Ilmu Sosial, dan
bahkan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK), seperti terdapat di UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta. Semua ini adalah beyond imagination, tidak pernah
terbayangkan sebelumnya.
144

