Page 162 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 162
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
luas dan kontribusi lebih besar bagi kemajuan bangsa dan negara. Peluang ke
arah itu kini terbuka lebar; banyak tergantung pada sivitas akademika UIN untuk
secara lebih serius mengubah tantangan dan harapan itu menjadi peluang dan
kenyataan. Salah satunya, seperti sering dikemukakan Prof DR A Malik Fadjar,
ketika menjabat Mendiknas, mengubah mental ‘institut’ menjadi mental
Penurunan minat dan universitas.
jumlah input pada
fakultas-fakultas agama Tetapi bukan tidak ada yang ‘meratapi’ perubahan IAIN menjadi UIN. Salah
sebenarnya hampir
tidak ada hubungannya satunya adalah Menteri Agama Muhammad M Basyuni yang pada pelantikan
dengan perubahan Rektor IAIN Imam Bonjol Padang 15 Juni 2007 mengeluarkan pernyataan
IAIN/STAIN menjadi ‘penyesalan’ yang kemudian ia ulang dari waktu sampai akhir masa tugasnya
UIN. pada Oktober 2009. Dalam kesempatan itu Menag menegaskan, Departemen
Agama menghentikan rencana perubahan IAIN menjadi UIN. Sampai sekarang
sudah ada enam UIN yang sebelumnya adalah lima IAIN dan satu STAIN.
“Mumpung belum berubah, saya stop dulu. Selama saya masih menjabat, tidak
akan ada [lagi IAIN] yang berubah status [menjadi UIN]”, ujar Menteri.
Alasan Menteri Agama Maftuh Basuni menghentikan perubahan IAIN-IAIN
lain menjadi UIN, bahwa setelah menjadi UIN, menurut pengamatannya
fakultas agama menjadi tertinggal. “Semua mau menjadi dokter, insinyur dan
sebagainya. Tidak ada yang mau menjadi kiyai”, katanya. Menteri Agama di sini
agaknya mengacu kepada Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan yang ada di
UIN Jakarta ; dan Fakultas-fakultas Sains dan Teknologi yang ada di seluruh UIN.
Alasan-alasan Menteri Agama menghentikan perubahan ini menarik dikaji.
Bahwa kian banyak anak-anak pesantren dan Madrasah Aliyah yang ingin
menjadi dokter, insinyur dan sebagainya, tentu sangat syah. Bukan karena
bidang-bidang ini lebih menjanjikan dalam hal lapangan kerja, tapi juga karena
memang umat, bangsa dan negara masih membutuhkan. Lagi pula, sudah
saatnya kian banyak lulusan madrasah dan pesantren yang kelak bergerak dalam
bidang-bidang strategis ini. Apalagi, cukup banyak lembaga dan organisasi Islam
yang memiliki klinik, rumah sakit dan sebagainya yang membutuhkan lulusan
seperti itu.
Jika ada keinginan
agar IAIN/STAIN dan
fakultas-fakultas agama Sekali lagi, pokok keprihatinan Menteri Agama adalah ‘tertinggalnya’ fakultas-
UIN tidak marjinal, fakultas agama. Tertinggal dalam hal apa? Menurut dia adalah tertinggal dalam
yang diperlukan
bukan kebijakan segi jumlah peminat. Pada IAIN/UIN Jakarta dan Yogyakarta yang memiliki
menghentikan sumber daya pengajar terbaik di lingkungan PTAIN, penurunan minat itu dapat
perubahan IAIN dikatakan tidak terjadi. Tapi bagi banyak IAIN dan STAIN penurunan minat itu
menjadi UIN, tapi
kebijakan khusus dalam beberapa tahun terakhir terlihat cukup kentara. Sementara pada pihak
yang mendorong kian lain, fakultas-fakultas baru di dalam struktur UIN, seperti Psikologi, Ekonomi,
tersedianya potensi Sains dan Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Pertanian dan Peternakan
input bagi mereka.
dan sebagainya terus meningkat peminatnya.
146

