Page 152 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 152

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3

























           Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama
           Pondok Pesanteran Mojosari.
           Sejak awal 1970an, berkat
           Menteri Agama, Profesor A Mukti
           Ali, dirintis sebuah jalan ke arah
           transformasi madrasah kedalam
           arus pendidikan nasional.
           Sumber: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya.


                                    tidak  termasuk  didesentralisasikan—pemerintah  daerah  dan  DPRD  (provinsi,
                                    kabupaten/kota) tidak dapat/tidak bersedia memberikan anggaran rutin kepada
                                    madrasah, termasuk tambahan insentif kepada guru madrasah. Padahal,
                                    madrasah adalah lembaga pendidikan di mana anak bangsa juga mendapatkan
                                    pendidikannnya—sama  dengan  sekolah  umum  di  bawah  Kemendiknas.
                                    Perlakuan diskriminatif ini masih terus berlanjut tanpa ada usaha kongkrit dari
                                    Kementerian Agama untuk menyelesaikannya.


                                    Meresponi diskriminasi itu, penulis (Azra) pernah menyarankan secara terbuka
                                    dalam wawancara  dengan Harian  Kompas, bahwa hanya ada tiga  alternatif
                                    bagi Kemenag untuk menyelesaikan masalah ini. Pertama; membiarkan dan
                   Azra dkk
             menyimpulkan, sistem   melanjutkan statusquo yang diskriminatif tersebut; kedua, membuat SKB Tiga
               pendidikan Islam     Menteri—Menag,  Mendiknas,  dan  Mendagri—yang  tidak  memperlakukan
             Indonesia termasuk ke   madrasah sebagai instansi  vertikal; dan ketiga, menyerahkan pengelolaan
             dalam rangking sistem   madrasah kepada Kemendiknas. Hemat saya, option yang kedua itu agaknya
               pendidikan paling
             terbuka dan inovatif di   yang lebih bisa diterima Kemenag dan lingkungan madrasah sendiri.
                    dunia.
                                    Sambil menunggu penyelesaian diskriminasi tersebut, jelas pencapaian penting
                                    dalam soal kedudukan hukum di atas jelas telah mendorong pencapaian lebih
                                    lanjut yang juga tidak kalah pentingnya, yakni peningkatan kualitas pendidikan
                                    madrasah dan sekaligus penambahan kuantitas madrasah pada ketiga
                                    tingkatannya.

                                    Sebagai contoh, menurut data 2005, MI berjumlah 22.799 yang terdiri dari 1.486
                                    (6,5 % MIN) dan 21.317 MI Swasta (93,5 % Swasta); MTs 10.792 yang terdiri






                    136
   147   148   149   150   151   152   153   154   155   156   157