Page 151 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 151
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
masyarakat Muslim tertentu sampai sekarang tetap memainkan peran itu. Salah
satu contohnya Madrasah Deoband di Asia Selatan, yang menghadapi berbagai Jika dibandingkan
tantangan intra-Muslim dan lingkungan lebih luas. Ini terlihat dalam artikel dengan negara-negara
Muslim tersebut,
Muhammad Qasim Zaman, ‘Tradition and Authority in Deobandi Madrasas of perkembangan
South India’, dan Barbara Metcalf, ‘Madrasas and Minorities in Secular India’ madrasah Indonesia
(2007). Dinamika madrasah di lingkungan minoritas Muslim lain bisa disimak sangat menarik. Sejarah
panjang madrasah
dari pengalaman Inggris seperti diungkapkan Peter Mandaville. sebelum kemunculan
‘wajah baru’-nya
Menghadapi berbagai tantangan, madrasah di lingkungan masyarakat adalah sejarah tentang
keterpinggiran dan
Muslim manapun jelas mengalami perubahan dan bahkan transformasi, yang keterbelakangan sejak
membuatnya bisa bertahan. Dalam pandangan Dale Eickelman, madrasah di dasawarsa-dasawarsa
Marocco gagal meresponi perubahan sehingga peran publiknya terus memudar. awal abad 20 di bawah
Sementara medrese Turki yang dihapuskan Ataturk pada 1924; tetapi dalam kekuasaan Belanda
beberapa dasawarsa terakhir muncul berbagai model pendidikan Islam. Gerakan sampai tercapainya
kemerdekaan pada
Nurculuk terutama melalui sayap dan jaringan Fethullah Gullen memperkenalkan 1945.
sistem pendidikan keagamaan alternatif yang sering disebut sebagai ‘hidden
medresse’, madrasah terselubung. Pada ujung lain, seperti diungkap Louis
Brenner, madrasah di Mali, Afrika, mengalami transformasi sehingga mampu
bertahan sebagai institusi mediasi sosial-keagamaan.
Jika dibandingkan dengan negara-negara Muslim tersebut, perkembangan
madrasah Indonesia sangat menarik. Sejarah panjang madrasah sebelum
kemunculan ‘wajah baru’-nya adalah sejarah tentang keterpinggiran dan
keterbelakangan sejak dasawarsa-dasawarsa awal abad 20 di bawah kekuasaan
Belanda sampai tercapainya kemerdekaan pada 1945.
Tetapi sejak awal 1970-an, berkat Menteri Agama, Profesor A Mukti Ali, merintis
jalan ke arah transformasi madrasah—dan juga perguruan tinggi Islam. Dan, Tidak ragu lagi,
momentum itu, dalam berbagai kesempatan saya sebut sebagai ‘mainstreaming pencapaian pendidikan
of Islamic education’—pengarusutamaan pendidikan Islam; tegasnya, dari yang madrasah (MI, MTs,
semula berada di pinggiran menuju ke ‘tengah’, ke dalam arus utama pendidikan MA) dalam empat
nasional Indonesia secara keseluruhan. dasawarsa terakhir
sangat fenomenal.
Pencapaian paling
Tidak ragu lagi, pencapaian pendidikan madrasah (MI, MTs, MA) dalam empat utama dari segi hukum
dasawarsa terakhir sangat fenomenal. Pencapaian paling utama dari segi adalah pengakuan
hukum adalah pengakuan negara melalui UU terhadap madrasah—melalui UU negara melalui UU
Sisdiknas No 2/1989 dan UU Sisdiknas Mo 20/2003. Dengan UU ini, madrasah terhadap madrasah—
tidak lagi marjinal dan terasing dari pendidikan nasional secara keseluruhan. melalui UU Sisdiknas
No 2/1989 dan UU
Seperti disampaikan Azra , sebaliknya madrasah mengalami mainstreaming, Sisdiknas Mo 20/2003.
7
pengarusutamaan yang membawa madrasah ke dalam transformasi dan Dengan UU ini,
pembaharuan yang sangat fenomenal. 8 madrasah tidak lagi
marjinal dan terasing
dari pendidikan
Meski demikian, pengarusutamaan itu masih belum tuntas; dalam segi-segi nasional secara
tertentu madrasah masih mendapat perlakuan diskriminatif. Misalnya saja dari keseluruhan.
segi anggaran. Karena Kementerian Agama adalah instansi vertikal—yang
135

