Page 146 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 146
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
Di antaranya, adalah Surau Batuhampar yang didirikan Syekh Abdurrahman
(1777-1888), kakek Bung Hatta. Pada masa pasca-kemerdekaan hanya Surau
Candung dan Surau Parabek yang dapat terus tegak.
Jelas, bahwa kemunduran surau disebabkan datang gelombang demi gelombang
pembaruan keagamaan dan pendidikan umum di Sumatera Barat. Gelombang
pemurnian Islam yang dilancarkan Padri dan kemunculan modernisme Islam
Salafi pada awal abad 20 memunculkan corak Islam yang tidak kompatibel
dengan ‘tradisi dan sistem nilai surau’. Sementara gelombang pendidikan umum
(Belanda) yang menemukan momentumnya sejak perempatan terakhir abad 19
menyeret anak-anak muda menjauh dari pendidikan surau.
Sistem nilai dan tradisi
surau—yang mirip jika Apakah ‘tradisi dan sistem nilai surau’ itu? Tradisi ini sebagian besarnya mirip
tidak sama dengan dengan “tradisi dan sistem nilai pesantren” di Jawa. Tradisi itu, pada dasarnya,
sistem nilai dan tradisi
pesantren—tidak bertumpu pada pandangan dunia, ideologi keagamaan dan praktek keislaman
kompatibel dengan yang lazimnya disebut sebagai ‘Islam tradisi’ atau ‘Islam tradisional’. Secara lebih
realitas historis dan spesifik, semua ini diaktualisasikan dengan kepenganutan kepada kalam Asy`ari,
sosiologis masyarakat fiqh Syafi`i, dan tasawuf al-Ghazali. Yang terakhir ini diperkuat lagi dengan
Minangkabau. Pertama, tarekat-tarekat yang pada gilirannya mewarnai distingsi surau.
masyarakat Minang
adalah masyarakat
yang terbuka dan Sistem nilai dan tradisi surau—yang mirip jika tidak sama dengan sistem nilai
responsif kepada dan tradisi pesantren—tidak kompatibel dengan realitas historis dan sosiologis
“pembaruan” dan masyarakat Minangkabau. Pertama, masyarakat Minang adalah masyarakat
“alam kemajuan”.
yang terbuka dan responsif kepada “pembaruan” dan “alam kemajuan”. Karena
itu ketika gelombang pembaruan atau tepatnya pemurnian Islam, baik yang
diwakili gerakan Padri maupun Kaum Muda pada awal abad 20, maka surau
menjadi sasaran dan target pembaruan, karena surau dipandang memegangi
paham dan praktek keagamaan yang “tradisional”, yang penuh dengan bid`ah,
khurafat dan takhyul. Begitu juga, ketika sekolah-sekolah Belanda (volkscholen)
diperkenalkan pada perempatan terakhir abad 19 dengan cepat masyarakat
Minang meresponi, karena inilah lembaga pendidikan yang dapat mengantarkan
mereka ke ‘alam kemajuan’ (world of progress).
Watak sosiologis dan perkembangan historis ini membuat posisi sosial surau
semakin lemah dan merosot dari waktu ke waktu. Meski kalangan surau berusaha
mengkonsolidasikan diri dengan membentuk PERTI misalnya, perubahan-
perubahan sosiologis dan kultural yang berlangsung dalam masyarakat Minang
membuat surau tidak pernah lagi bisa bangkit. Perubahan-perubahan sosiologis
dan kultural itu nampaknya sudah irreversible, tidak bisa dimundurkan lagi.
Karena itu, jika surau ingin dibangkitkan kembali, maka alternatif yang paling
mungkin adalah mengembangkan surau dalam kerangka realitas sosiologis dan
kultural masa kini. Adopsi “pesantren” dalam masyarakat Minang sekarang
agaknya merupakan pencerminan dari bentuk respon yang dipilih.
130

