Page 145 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 145

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           dasarnya sama dengan pesantren di Jawa. Dalam konteks ini, surau lebih dari
           sekedar ’langgar’ atau ‘mushalla’. Tentu saja ada, sejak masa awal penyebaran
           Islam di Minangkabau terdapat surau yang merupakan sekedar tempat belajar
           mengaji dan pengetahuan dasar tentang Islam. Surau seperti ini sekaligus menjadi
           tempat sosialisasi adat istiadat, belajar silat dan lain-lain. Surau kecil ini bahkan
           mendapatkan  tempat  khusus  dalam  sistem  adat;  ia  menjadi  ‘rumah’  tempat
           tidur bagi anak laki-laki, karena dalam adat Minang, mereka tidak punya kamar
           di rumah ibunya. Surau juga menjadi tempat “anak dagang” atau ‘pedagang
           babelok’ dalam perjalanan mereka mencari rezeki dari pekan ke pekan.


           Tetapi penting dikemukakan, secara historis surau sebagai lembaga pendidikan
           Islam yang lengkap merupakan komplek bangunan yang terdiri dari masjid,
           bangunan-bangunan untuk tempat belajar, dan surau-surau kecil yang sekaligus
           menjadi pemondokan murid-murid yang belajar di surau. Pola dasar (prototype)
           surau seperti ini adalah Surau Ulakan yang didirikan Syekh Burhanuddin (1646-
           1691). Selanjutnya surau-surau seperti ini berkembang ke wilayah darek, seperti
           Surau Koto Tuo (Tuanku Nan Tuo) Agam yang memiliki distingsi dalam bidang
           tafsir; Surau Kotogadang yang terkenal sebagai pusat ilmu mantiq dan ma`ani;
           Surau Sumanik, tersohor kuat dalam tafsir dan fara’id; Surau Kamang, terkenal
           karena kuat dalam ilmu-ilmu bahasa Arab; Surau Talang, dan Surau Salayo, yang
           keduanya terkenal dalam bidang nahwu-sharaf. Keseluruhan surau ini mencapai
           puncak kejayaannya dalam masa pra-Padri).

           Gerakan pemurnian radikal Padri menghancurkan banyak surau. Dalam masa
           pasca-Perang Padri, hanya beberapa surau besar saja yang mampu bertahan.

                                                                                       Surau Nagari di Lubuk Bauk,
                                                                                       Sumatra Barat.
                                                                                       Surau di Milangkabau tidak
                                                                                       hanya sekedar menjadi tempat
                                                                                       belajar mengaji dan pengetahuan
                                                                                       dasar tentang Islam tetapi
                                                                                       sekaligus menjadi tempat
                                                                                       sosialisasi adat istiadat, belajar
                                                                                       silat dan lain-lain.
                                                                                       Sumber: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya.























                                                                                                 129
   140   141   142   143   144   145   146   147   148   149   150