Page 142 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 142

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    Kedua, pendidikan madrasah yang mengikuti kurikulum Diknas dan Depag.
               Harapan pertama      Madrasah semula merupakan ‘pendidikan agama plus umum’, tetapi dengan
               dan utama adalah     ekuivalensi seperti digariskan UUSPN 1989 adalah ‘sekolah umum berciri agama’.
              agar pesantren tetap   Ketiga; sekolah Islam yang mengikuti kurikulum Diknas, yang pada dasarnya
              menjalankan peran
               sangat krusialnya    adalah ‘pendidikan umum plus  agama’. Keempat, pendidikan ketrampilan
             dalam tiga hal pokok:   (vocational training), apakah mengikuti model ‘STM’ atau MAK/SMK.
              Pertama, transmissi
                 ilmu-ilmu dan
              pengetahuan Islam     Keempat jenis pilihan ini dapat dilaksanakan dalam satu pesantren tertentu.
             (transmission of Islamic   Keempat pilihan ini secara secara implisit mengakomodasi hampir keseluruhan
              knowledge). Kedua,    harapan masyarakat secara  sekaligus kepada pesantren. Harapan pertama
              pemeliharaan tradisi   dan utama adalah agar pesantren tetap menjalankan peran sangat krusialnya
              Islam (maintenance
              of Islamic tradition).   dalam tiga hal pokok: Pertama, transmissi ilmu-ilmu dan pengetahuan Islam
               Ketiga, reproduksi   (transmission of Islamic knowledge).  Kedua,  pemeliharaan  tradisi  Islam
              (calon-calon) ulama   (maintenance of Islamic tradition).  Ketiga,  reproduksi  (calon-calon)  ulama
                (reproduction of
                   `ulama’).        (reproduction of `ulama’).

                                    Harapan kedua adalah agar para santri tidak hanya mengetahui ilmu agama,
                                    tetapi juga ilmu umum dan, dengan demikian, dapat melakukan mobilitas
                                    pendidikan. Dan harapan ketiga, agar para santri memiliki ketrampilan, keahlian
                                    atau  life skills—khususnya  dalam  bidang-bidang  sains  dan  teknologi  yang
                                    menjadi  karakter  dan  ciri  masa  globalisasi—yang  pada  gilirannya  membuat
                                    mereka memiliki dasar-dasar “competitive advantage” dalam lapangan kerja,
                                    sebagaimana dituntut di alam globalisasi.

                                    Pengembangan “competitive  advantage” atau “competitive edge” di dunia
                                    pesantren jelas bukanlah hal yang mudah. Pengembangan itu, bukan hanya
                                    memerlukan penyediaan SDM guru yang qualified, laboratorium/bengkel kerja
                                    dan hardware lain, tetapi juga perubahan sikap teologis dan budaya. Bukan
                                    rahasia lagi, bahwa paham teologis yang dominan di kalangan pesantren
                                    masih cenderung meminggirkan ilmu-ilmu yang berkenaan dengan sains dan
                                    teknologi, karena secara epistimologis dianggap tidak atau kurang sah, karena
                Pengembangan
                 “competitive       sains dan teknologi merupakan produk rasio dan pengujian empiris. Lebih jauh,
               advantage” atau      budaya sains dan teknologi masih kurang mendapat tempat dalam masyarakat
             “competitive edge” di   kita umumnya; tingkat melek—apalagi budaya—komputer, bisa diduga, masih
              dunia pesantren jelas
               bukanlah hal yang    sangat rendah dalam masyarakat kita umumnya, wa bil-khusus  di kalangan
            mudah. Pengembangan     pesantren.
               itu, bukan hanya
                 memerlukan
               penyediaan SDM       Tetapi, sekali lagi, mengambil keseluruhan pilihan jenis pendidikan ini jelas
              guru yang kualified,   mengandung berbagai kesulitan dan dilema tertentu bagi pesantren. Kesulitan
             laboratorium/bengkel   itu terletak bukan hanya pada keterbatasan kapasitas kelembagaan, tetapi juga
              kerja dan hardware    karena masih lemahnya SDM yang qualified dalam proses pembelajaran, dan
                lain, tetapi juga
               perubahan sikap      keterbatasan-keterbatasan lainnya. Karena itu, langkah yang paling realistis
              teologis dan budaya.  adalah mengambil satu atau dua pilihan itu, sementara sedikit banyak berusaha
                                    mengakomodasi pilihan-pilihan lainnya.






                    126
   137   138   139   140   141   142   143   144   145   146   147