Page 141 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 141

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           Pergulatan identitas ini masih terus berlanjut sampai sekarang ini. Sistem
           pendidikan Islam sering sekali masih bergulat di antara ‘academic expectation’,
           harapan untuk keunggulan akademis dan mutu pendidikan sebagai lembaga
           pendidikan, dengan ‘social expectation’, harapan sosial umat Islam bahwa
           lembaga-lembaga pendidikan Islam memikul tugas pembinaan anak-anak umat
           sebagai lembaga dakwah .
                                  2

           Tetapi,  sekali  lagi,  modernisasi  pendidikan  Islam—khususnya  pesantren—
           nampaknya sudah menjadi keharusan sejarah. Modernisasi itu akhirnya
           dikukuhkan dengan UUSPN 1989 yang selain secara umum mengakui sistem
           pendidikan Islam, tetapi juga menetapkan bahwa madrasah ekuivalen dengan
           sekolah umum. Bahkan, madrasah pada dasarnya adalah ‘sekolah umum’ yang
           memiliki ciri keagamaan (Islam). Tetapi, bagaimana perumusan ‘ciri’, ‘nuansa’,
           atau ‘karakter’ Islam itu, sampai sekarang ini masih merupakan agenda yang       Potret pesantren
           belum terselesaikan secara tuntas.                                               dewasa ini, jelas
                                                                                          jauh lebih kompleks
                                                                                         daripada pesantren di
           Kini, sementara proses modernisasi pendidikan Islam masih jauh daripada selesai   masa silam. Berbagai
           tantangan-tantangan baru yang bersifat global telah hadir pula. Tantangan-       perkembangan
           tantangan global itu—dalam bentuk globalisasi dan “globalisme”—menyangkut         dan dinamika
           tidak hanya bidang ekonomi, politik dan informasi, tetapi juga dalam bidang      menghadirkan
           pendidikan. Pendidikan Islam, khususnya, khususnya pesantren—yang sekali lagi   peluang dan sekaligus
                                                                                            tantangan bagi
           bukan hanya merupakan lembaga pendidikan, tetapi juga lembaga dakwah—              pesantren.
           juga tidak luput dari tantangan globalisasi itu.

           Potret  pesantren dewasa ini, jelas jauh lebih kompleks daripada pesantren di
           masa silam . Berbagai  perkembangan dan dinamika  menghadirkan peluang
                     3
           dan sekaligus tantangan bagi pesantren. Kompleksitas tantangan itu menjadi
           lebih rumit lagi, ketika kita harus mengakui, bahwa secara internal pesantren
           masih menghadapi berbagai masalah yang masih belum terselesaikan sampai
           sekarang, khususnya sejak pesantren mengalami modernisasi pada 1970-an.


           Tantangan dan masalah internal pesantren pasca modernisasi dan tantangan
           globalisasi pada hari ini dan masa depan, secara umum adalah sebagai berikut:
           Pertama, jenis pendidikan yang dipilih dan dilaksanakan. Dengan terjadinya
           perubahan-perubahan kebijakan dan politik pendidikan sejak tahun 1970-an dan
           peluang-peluang baru seperti diisyaratkan dalam paradigma baru pendidikan
           nasional, seperti yang dikemukakan di atas, kini pesantren memiliki peluang dan
           sekaligus tantangan berkenaan dengan jenis pendidikan yang dapat dipilih dan
           diselenggarakan, yang setidak-tidaknya kini menyediakan empat pilihan:


           Pertama; pendidikan yang berpusat pada  tafaqquh fi al-din, seperti tradisi
           pesantren  pada  masa  pra-modernisasi  (pesantren  salafiyyah),  dengan
           kurikulum yang hampir sepenuhnya ilmu agama. Di tengah arus modernisasi
           pesantren belakangan terdapat kecenderungan sejumlah pesantren untuk
           mempertahankan atau bahkan kembali kepada karakter Salafiyyahnya.





                                                                                                 125
   136   137   138   139   140   141   142   143   144   145   146