Page 232 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 232

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                                              Abah Anom juga berusaha keras menyebarkan
                                                              Pancasila sebagai dasar negara dan mendukung
                                                              Golkar serta menyuruh anggota-anggotanya untuk
                                                              selalu memilih Golkar. Setelah Pemilu 1982 dia juga
                                                              mendapat hadiah dari pemerintah atas kemenangan
                                                              Golkar, dan pada tahun 1984 ditunjuk sebagai
                                                              Pinisepuh Golkar. 97


                                                              Sikap Tarekat Qadiriyyah-Naqsyabandiyyah yang
                                                              cenderung bekerja sama dengan pemerintah ini
                                                              sama dengan sikap Tarekat Sammaniyyah. Sikap
                                                              keduanya terhadap pemerintah kolonial Belanda
                                                              juga serupa, dalam arti bahwa keduanya cenderung
                                                              bersikap non-kooperatif, yang tampak dari berbagai
                                                              pemberontakan yang dilancarkan tarekat-tarekat
                                                              tersebut pada abad ke 19, seperti sudah dijelaskan
                                                              di atas.

                                                              Namun, penting dicatat bahwa seiring hilangnya
                                                              kekuasaan kolonial dan munculnya pemerintah
                                                              Republik sebagai penguasa, kedua tarekat tersebut
                                                              pun memiliki kecenderungan yang sama. Jika
                                                              sebelumnya mereka menunjukkan sikap antipati
           Abah Anom atau K.H.A. Shahib   teradap penguasa kolonial, maka setelah Indonesia merdeka, sikap mereka
           Al -Wafa Taj Al-‘Arifin, seorang   berubah menjadi kooperatif terhadap pemerintah Indonesia. Dan menjadi
           yang tidak hanya menguasai   semakin kooperatif ketika Orde Baru memimpin Indonesia. Tidak saja bersikap
           ilmu tarekat tetapi juga berbagai
           bidang ilmu agama Islam.  kooperatif, tarekat-tarekat tersebut bahkan memberikan dukungan yang besar
           Sumber: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya.  bagi proses pembangunan yang digalakkan Orde Baru.

                                    Perubahan sikap politik ini tampaknya dilatarbetakangi oleh perbedaan
                                    penguasa  di  Indonesia.  Pemerintah  Indonesia  dianggap  sebagai  penguasa
               Seiring hilangnya
              kekuasaan kolonial    yang sah di negara ini, sementara Belanda dianggap sebagai penjajah. Apalagi,
                dan munculnya       pemerintah yang berkuasa tidak hanya memberikan kebebasan kepada rakyat
             pemerintah Republik    untuk  memeluk agama  dan beribadah,  tetapi  juga melaksanakan  program-
              sebagai penguasa,
                kedua tarekat       program pembangunan di bidang keagamaan. Adanya hubungan yang saling
             tersebut pun memiliki   menguntungkan antara pemerintah dan tarekat tersebut menyebabkan kaum
             kecenderungan yang     tarekat mendukung program-program pemerintah. Ini ditunjukkan oleh
             sama. Jika sebelumnya
             mereka menunjukkan     kenyataan bahwa beberapa tarekat berafiliasi ke Golkar meskipun terdapat juga
             sikap antipati teradap   kelompok yang menentang sikap tersebut.
              penguasa kolonial,
            maka setelah Indonesia
            merdeka, sikap mereka   Memasuki era reformasi, beberapa tarekat yang dapat dikategorikan sebagai
               berubah menjadi      neo-Sufi mulai secara gamblang memperlihatkan aktivismenya dalam berbagai
              kooperatif terhadap   kegiatan politik. Di bilangan Ciputat, tarekat Tijaniyah di bawah pimpinan KH.
             pemerintah Indonesia.
                                    Misbahul Anam dari Pesantren al-Umm tercatat mendukung penuh kelahiran






                    216
   227   228   229   230   231   232   233   234   235   236   237