Page 228 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 228

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    Snouck Hurgronje yang menjadi penasihat pemerintah Hindia Belanda (1889-
            Snouck Hurgronje yang
              menjadi penasihat     1906) memiliki pandangan bahwa secara garis besar Islam dibedakan kepada
              pemerintah Hindia     aspek ibadah dan akidah dan aspek politik. Islam politiklah, menurut Snouck
              Belanda (1889-1906)   Hurgronje, yang harus diwaspadai dan ditumpas habis, sedangkan aspek akidah
              memiliki pandangan
              bahwa secara garis    dan  ibadah  harus  dibiarkan  hidup.  Prinsip  inilah  yang  melandasi  kebijakan
             besar Islam dibedakan   pemerintah kolonial Belanda, paling tidak pada masa Snouck-Hurgronje
             kepada aspek ibadah    menjabat penasihat pemerintah.
                dan akidah dan
              aspek politik. Islam
              politiklah, menurut   Berhadapan dengan gerakan tarekat, Snouck-Hurgronje memiliki sikap
              Snouck Hurgronje,     menghambat arus anti-tarekat baik dari kalangan pejabat maupun golongan
            yang harus diwaspadai
              dan ditumpas habis,   pembaharu, dan pada saat yang sama mengadakan pengawasan yang ketat
               sedangkan aspek      terhadap kegiatan-kegiatan gerakan tarekat untuk mengantisipasi pergolakan
              akidah dan ibadah     politik yang mungkin ditimbulkan oleh gerakan tarekat tersebut.  Namun, pada
                                                                                                84
             harus dibiarkan hidup.
              Prinsip inilah yang   kesempatan lain Snouck Hurgronje menyatakan bahwa para guru tarekat adalah
              melandasi kebijakan   musuh pemerintah Hindia Belanda yang paling berbahaya, sama halnya dengan
              pemerintah kolonial   ancaman Tarekat Sanusiyyah di Aljazair. Oleh sebab itu, penguasa Belanda pada
                   Belanda.
                                    umumnya menganggap bahwa ajaran-ajaran tarekat sangat berbahaya bagi
                                    kekuasaan Belanda di Nusantara. 85


                                    Namun, kebijakan kolonial pasca Snouck-Hurgronje mengambil haluan berbeda,
                                    di mana tumbuh kecurigaan dan kekhawatiran dari pengakuan akan aspek-
                                    aspek ibadah dan akidah tersebut. Inilah yang dialami, misalnya, oleh kelompok
                                    pengikut Tarekat Sammaniyyah di bawah pemimpin Haji Abdullah di Sulawesi
                                    Selatan. Seiring semakin besarnya kecurigaan dan kekhawatiran para pejabat
                                    Hindia Belanda, semakin tinggi pula peningkatan jumlah pengikut Tarekat
                                    Sammaniyyah  di  bawah  pemimpin  Haji  Abdullah  di  Sulawesi  Selatan.  Inilah
                                    yang menimbulkan kekhawatiran baik dari pihak Belanda maupun dari pihak
                                                              86
                                    pemimpin-pemimpin Islam.
                                    Persoalannya, para pejabat Hindia Belanda seringkali memihak kepada golongan
                                    yang anti-Tarekat Sammaniyyah. Mereka tampaknya lebih menerima informasi
                                    dari ulama-ulama yang anti-tarekat dan berpihak kepada mereka. Karena itu,
                                    ketika  Haji  Abdullah  diwawancarai  oleh  Controler  Maros  pada  1924  untuk
                                    mempertanggungjawabkan tuduhan dan fitnah yang ditujukan kepadanya,
                                    syekh tarekat tersebut seakan berada dalam posisi yang selalu tersudut. Dengan
                                    kata lain, walaupun syekh tarekat tersebut mampu membela dirinya, tuduhan
                                    dan fitnah terus saja bermunculan dan menyebar. Sedangkan pihak pejabat
                                    Hindia Belanda tidak pernah memberikan hukuman atau peringatan kepada
                                    golongan yang memberikan tuduhan atau fitnahan. Hal itulah yang membuat
                                    Haji Abdullah sempat mengeluh karena dia ditangkap dan diusir oleh asistent-
                                    resident  yang menuduhnya mengemis dan memeras penduduk ketika dia
                                    mengadakan kunjungan ke Bone untuk menagih pinjaman.    87










                    212
   223   224   225   226   227   228   229   230   231   232   233