Page 230 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 230
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
Puang Lampo (wafat 1964), yang memulai kisah keterlibataan tarekat dalam
politik. Setelah memutuskan untuk bergabung dengan partai Golongan Karya
(Golkar), Haji Ibrahim mengajak seluruh pengikutnya untuk berkampanye bagi
kemenangan Golkar, baik pada Pemilu tahun 1971 maupun tahun 1977. Relasi
antara tarekat dan Golkar saling menguntungkan. Pihak tarekat memperoleh
berbagai fasilitas, pihak Golkar memperoleh dukungan suara yang besar.
Sementara itu, keterlibatan tarekat Qadiriyyah-Naqsyabandiyyah dalam dunia
politik terjadi sejak era kolonial, ketika mereka terlibat dalam Pemberontakan
Banten tahun 1888 maupun pada Gerakan Anti-Bali di Lombok tahun 1891. 91
Di masa sesudahnya, relasi tarekat Qadiriyyah-Naqsyabandiyyah dengan politik
semakin kuat ketika tarekat ini dipimpin oleh Kyai Musta’in Ramly. Di bawah
kepemimpinannya, perkembangan Tarekat Qadiriyyah-Naqsyabandiyyah
meningkat secara drastis. Di Jawa Timur saja terdapat lima belas cabang tarekat
yang dipimpin oleh masing-masing badal dengan anggota sekitar 15.000 orang.
Prestisenya kemudian meningkat ke tingkat nasional ketika pada tahun 1975 ia
menduduki posisi ketua Jam’iyah Ahli Thariqah Mu’tabarah yang didirikan pada
10 Oktober 1957. Pengaruh Pesantren Rejoso pun semakin dikenal di tingkat
nasional. 92
Abah Sepuh pendiri Pesantren
Suryalaya yang membawa tarekat Musta’in Ramly kemudian menjalin hubungan dengan Golkar dan menerima
Qadiriyyah-Naqsyabandiyyah
Sumber: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya. sepuluh hektar tanah di Jombang dan bantuan keuangan yang digunakan
untuk membangun Universitas Dar al-Ulum. Pada
Pemilu 1977 Kyai Musta’in mendukung dan
berkompanye untuk kemenangan Golkar, sementara
mayoritas anggota NU adalah pendukung Partai
Persatuan Pembangunan (PPP). Konsekuensinya,
sikap Kyai Musta’in Ramly menyebabkan
kemarahan banyak kyai yang memandangnya
telah menyalahgunakan kedudukannya, sehingga
diputuskan untuk mencopotnya dari posisi ketua
Jam’iyah. Kyai Musta’in pun kehilangan pengaruh
dan pengikut. Banyak pengikutnya di Jawa Timur
meninggalkannya dan melakukan bai’ah kepada
guru lain terutama Kyai ‘Adlan ‘Ali dan Kyai
‘Utsman di Surabaya. Kyai ‘Adlan ‘Ali memang
sudah melepaskan diri dari Kyai Musta’in Ramly
dan mendapat ijazah dari Kyai Muslikh Mranggen.
Akan tetapi, perpecahan tetap terjadi dengan
berubah kesetiaan terutama karena perbedaan
orientasi politik. Berdasarkan peranan Kyai
93
‘Adlan ‘Ali dalam menarikpengikut-pengikut yang
berasal dari Kyai Musta’in, Tebuireng setidaknya
pernah menjadi pusat Tarekat Qadiriyyah-
Naqsyabandiyyah di Jawa Timur sejak Januari
1978.
94
214

