Page 226 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 226

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    Ini cukup membingungkan karena dalam paragraf berikutnya, peneliti tersebut
                                    menulis bahwa golongan tersebut dinamakan beratib beamal. Tampaknya ia
                                    tidak konsisten dalam analisisnya. Kutipan-kutipan di atas tadi sama sekali tidak
                                    menunjukkan sifat Islami dari gerakan tersebut. Padahal, dalam masyarakat
                                    dikenal bahwa istilah ratib sendiri berkembang dalam ajaran dan praktik tarekat.
                                    Kalau deskripsi peneliti itu benar berdasarkan fakta, tentu terdapat rangkaian
                                    peristiwa yang kontradiktif. Dalam pemikiran logis, tidak mungkin seorang
                                    pemimpin tarekat, apa pun aliran tarekat yang dipegangnya, melaksanakan
                                    perbuatan-perbuatan yang sangat keji dan kotor seperti makan daging dan darah
                                    manusia sebagaimana ditulis di atas tadi. Karena tujuan utama pengamalan
                                    tarekat itu adalah menyesuaikan diri dalam rangka pendekatan kepada Tuhan
                                    dalam kondisi yang sedekat mungkin.


                                    Dalam keadaan perang, membunuh seseorang tentu dibenarkan, atau orang
                                    kafir bisa dianggap musuh yang harus dibunuh. Tetapi, tentu tidak melakukan
                                    perbuatan-perbuatan keji. Kalau kejadian tersebut benar, pasti akan ada reaksi
                                    dalam kalangan ulama setempat karena pada abad ke-18 telah muncul para
                                    ulama terkenal di Kalimantan Selatan.


                                    Juga sulit diterima akal sehat bahwa seorang penghulu seperti Abdurrasyid
                                    pernah menghina al-Quran dengan membuangnya di depan para muridnya.
                                    Seabad sebelumnya, semasa Syekh Arsyad al-Banjari masih hidup, seorang guru
                                    tarekat yang bernama Abdulhamid dihukum mati oleh Sultan Banjar karena
                                    mengajarkan ajaran wahdatul wujud (wujudiyah mulhid). Membuang al-Quran
                                    oleh seorang guru merupakan perbuatan menghina agama Islam dan pasti akan
                                    mendapat hukuman. Sementara pemimpin gerakan beratib beamal mendapat
                                    dukungan masyarakat luas. Tampaknya data yang terpercaya mengenai gerakan
                                    beratib beamal ini masih sangat dibutuhkan.

                                    Sebagian formula dzikir dalam beratib beamal ini ialah sebagai berikut: 80


                                          La ilaha illallah, menadah kepada Tuhan, rizki minta murahkan, bahaya
                                          minta jauhkan, umur minta panjangkan, serta iman.
                                          La ilaha illallah, tummat di Mekkah ke Madinah, disitu tempat
                                          Rasulullah.
                                          La ilaha illallah, tummat di Mekkah ke Madinah, di situ tempat Siti
                                          Fatimah.
                                          La ilaha illallah, hati yang sidiq, ia maulano, ia Muhammad rasulullah.
                                          La ilaha illallah, hati yang mu’min bait Allah.
                                          La ilaha illallah, nabi Muhammad hamba Allah.
                                          La ilaha illallah, nabi Muhammad pesuruh Allah.
                                          La ilaha illallah, Muhammad Rasulullah.
                                          La ilaha illallah, Muhammad sifat Allah.
                                          La ilaha illallah, Muhammad aulia Allah.
                                          La ilaha illallah, maujud hamba Allah.
                                          La ilaha illallah



                    210
   221   222   223   224   225   226   227   228   229   230   231