Page 223 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 223

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           Tarekat dan Pemberontakan Anti Kolonial





           Pada zaman  kolonial keberadaan tarekat dikaitkan dengan beberapa
           pemberontakan. Keterlibatan tarekat dalam pemberontakan anti-kolonial terjadi     Pada zaman
           selama  akhir abad  ke-19 dan  awal abad  ke-20. Tercatat antara tahun  1880   kolonial keberadaan
                                                                                           tarekat dikaitkan
           hingga tahun 1915, beberapa tarekat menjadi penggerak atau wadah protes         dengan beberapa
           sosial rakyat atau elit lokal.  Pada rentang era tersebut, tarekat adalah media   pemberontakan.
                                    74
           terbaik untuk mengorganisasikan gerakan keagamaan dan menyelenggarakan         Keterlibatan tarekat
           indoktrinasi tentang cita-cita kebangkitan kembali. 75                        dalam pemberontakan
                                                                                          anti-kolonial terjadi
                                                                                           selama akhir abad
           Salah satunya yang terbesar adalah pemberontakan di Banten pada 1888.          ke-19 dan awal abad
           Meskipun  sering  dikenal  sebagai  ‘pemberontakan  petani’, pemberontakan    ke-20. Tercatat antara
                                                                                           tahun 1880 hingga
           tersebut  melibatkan  atau,  paling  tidak,  dikaitkan  dengan guru-guru  tarekat   tahun 1915, beberapa
           Qadiriyyah-Naqsyabandiyyah. Karena peran mereka lah terbetuk suatu jaringan      tarekat menjadi
           komunikasi dan suatu mata rantai yang memungkinkan dilakukannya mobilisasi    penggerak atau wadah
                                                                                          protes sosial rakyat
           massa. Terlebih dalam sejarahnya, sebelum pemberontakan dilaksanakan            atau elit lokal.74
           mereka selalu mempraktikkan ritual dzikir dan ritual-ritual lain yang diajarkan   Pada rentang era
           oleh tarekat Qadiriyyah-Naqsyabandiyyah.                                     tersebut, tarekat adalah
                                                                                          media terbaik untuk
                                                                                          mengorganisasikan
           Tidak  lama  setelah  pemberontakan  anti-kolonial  yang  melibatkan  tarekat   gerakan keagamaan
           Qadiriyah wa Naqsyabandiyah di Banten tahun 1888, pada 1891 tarekat           dan menyelenggarakan
                                                                                          indoktrinasi tentang
           Qadiriyah wa Naqsyabandiyah kembali terlibat dalam pemberontakan rakyat        cita-cita kebangkitan
           terhadap  Kolonial  Belanda  di  Lombok.  Dan  di  awal  abad  ke-20,  tepatnya     kembali.
           pada 1903, khalifah tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Sidoarjo langsung
           memimpin sebuah revolusi jihad.

           Selain Qadiriyyah-Naqsyabandiyyah, Tarekat Sammaniyyah juga telah berperan
           dalam pemberontakan anti-kolonial. Pada tahun 1819 terjadi perlawanan
           rakyat Palembang terhadap tentara Belanda yang dikirim untuk menaklukkan
           kota itu. Perang tersebut dinamakan Perang Menteng, diambil dari nama
           komandan pasukan Belanda Muntinghe. Kaum mujahidin mempersiapkan diri
           mereka untuk berjihad di jalan Allah dengan membaca asma Allah, berdzikir
           dan beratib dengan suara keras hingga mencapai fana. Dalam keadaan fana,
           mereka menyerang pasukan Belanda; Dan, dengan semangat dan keberanian
           yang tinggi, mujahidin Palembang tersebut berhasil mengalahkan serangan
           pertama  pasukan  Belanda.  Pasukan  Palembang  dimaksud  adalah  pengikut
           Tarekat Sammaniyyah dan amalan-amalan tarekat ini digunakan untuk berjihad
           di jalan Allah melawan Belanda. 76


           Perang Menteng ini dilukiskan dalam Syair Perang Menteng yang berjumlah 260
           bait. Berikut adalah bagian syair yang menggambarkan dimensi tarekat dalam
           perang tersebut mencakup: 77






                                                                                                 207
   218   219   220   221   222   223   224   225   226   227   228