Page 225 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 225
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
selama bertahun-tahun dan para pemberontak menerima baiat dan diberi jimat-
jimat oleh seorang guru tarekat yang bernama Penghulu Abdurrasyid. Ratib yang
diajarkan itu kemungkinan besar merupakan adaptasi lokal terhadap ajaran-
ajaran Tarekat Sammaniyyah. Sayang sekali tidak diketahui lebih detail mengenai
Penghulu Rasyid dan gerakan beratib beamal ini. Namun, sebagaimana peristiwa
Perang Menteng di Palembang, para pemberontak berzikir dan membaca ratib
sampai tak sadar diri dan kemudian menyerang pasukan Belanda dengan penuh
keberanian tanpa memperhitungkan bahaya yang akan menewaskan mereka.
Pemberontakan-pemberontakan yang dilancarkan tersebut sempat mengancam
kedudukan Belanda, dan mereda setelah para pemimpin gerakan beratib beamal
gugur tertembak. 78
Seorang peneliti Islam pernah menyangkal bahwa pemberontakan beratib
beamal adalah gerakan yang bercorak Islam murni. Ia bahkan mengemukakan
cerita negatif tentang tokoh gerakan tersebut yang dia klaim berasal dari cerita
rakyat Banjarmasin sendiri. Menurutnya:
...Abdurrasyid pernah membuang Kitab Al-Quran dan mengatakan
bahwa ia akan memberikan kepercayaan yang leih baik lagi. Kemudian dia
membunuh seorang bulai dari Sihong dan memerintahkan pengikutnya
memakan daging dan meminum darahnya. Dia menjanjikan kepada
muridnya bahwa dengan perbuatan semacam itu mereka akan mencapai
keadaan yang kebal dan derajat yang tertinggi, yang bisa dicapai oleh
manusia
Lebih jauh, ia menambahkan cerita-cerita lain untuk mendukung anggapannya
bahwa penduduk daerah di Kalimantan Selatan belum memeluk agama Islam
secara penuh. Dia beranggapan bahwa “hanya rakyat di kota-kota besar dan
pelabuhan saja yang sudah menganut agama Islam secara turun-temurun.”
Singkatnya, ia lebih menonjolkan pengaruh agama dan kebudayaan pra-Islam
pada gerakan beratib beamal tersebut. Sebagai tambahan argumennya, dia
juga menulis:
Kemudian Penghulu Abdurrasyid ini memotong daun kelapa dalam
bentuk buaya. Dengan mengucapkan beberapa kalimat sihir. Daun ini
dimasukkan ke dalam air, dengan kepercayaan bahwa buaya ini akan
sungguh-sungguh hidup dan menelan orang Eropa, sehingga dalam
jangka waktu satu bulan saja Kalimantan pasti akan menjadi daerah bebas
dari orang Eropa; bebas dari kerja paksa dan pajak. 79
209

