Page 222 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 222
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
menarik banyak pengikut dari kawasan Cirebon dan Banyumas, tempat budaya
Sunda dan Jawa bertemu. Ajaran-ajarannya, sebagaimana dapat ditemukan
dalam ”layang Muslimin jeung Muslimat”, berpangkal pada paham wahdtul
wujûd dan menganggap al-insan al-kamil karya ‘Abd al-Karîm al-Jili sebagai
teks pokok ajaran mereka. Pengikutnya yang relatif kecil tersebar di beberapa
tempat di Pulau Jawa. Tarekat ini dicurigai oleh Belanda sebagai penghasut anti-
kolonial.
Tarekat lokal lainnya adalah Shiddiqiyah. Tarekat ini muncul di Jawa Timur pada
Beberapa tarekat zaman kemerdekaan, didirikan oleh Kiai Muhtar Mu’thi dari Ploso Jombang.
lokal antara lain
Tarekat Akmaliyah, Ia mendirikan tarekat ini setelah menerima ajaran-ajarannya pada pertengahan
Shiddiqiyah, Wahidiyah 1950-an dari seorang yang mengaku pewaris spiritual Yusuf al-Makassari,
dan Junaidiyas. Syu’aib Jamal. Ajaran tauhid oleh tarekat ini banyak disesuaikan dengan
kebudayaan masyarakat Jawa, sedangkan amalannya terdiri dari pembacaan
ratib panjang yang diikuti latihan pernafasan. 72
Selain itu, ada pula tarekat Wahidiyah. Tarekat ini didirikan Kiai Abdul Majid
Ma’ruf dari Pesantren Kedonglo, Kediri, pada awal 1960-an. Amalan utamanya
terdiri dari pembacaan doa (salawat) yang panjang secara berjamaah. Doa itu
disusun sendiri oleh Kiai Abdul Majid, yang penyusunannya diyakini berdasarkan
ilham dari Allah. Pembacaan salawat secara berjamaah ini membawa suasana
yang sangat emosional hingga para pengamalnya menangis meraung-raung
dan tidak dapat menguasai diri. Walaupun mendapat halangan yang keras
dari tarekat-tarekat lain, tarekat Wahidiyah dalam waktu singkat memperoleh
banyak pengikut di kalangan awam Kediri hingga menyebar ke seluruh Jawa
Timur.
Selain di Jawa, hal yang sama juga berkembang di luar Jawa. Sebagai contohnya
adalah tarekat Junaidiyah. Tarekat lokal ini muncul di Kalimantan Selatan, yang
merupakan kelanjutan dari tarekat beraliran dawq. Tarekat yang mendasarkan
diri pada ajaran Nafis al-Banjari dalam kitab al-Durr al-Nafîs yang bercorak
wahdatul wujûd ini diperkenalkan oleh Haji Kasyful Anwar Firdaus. Kitab inilah
yang dalam perkembanganya menjadi salah satu rujukan para anggota tarekat. 73
206

