Page 218 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 218

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    Syaikh Sambas tidak pernah menuliskan ajaran-ajaran tasawuf atau praktik
                                    tarekatnya. Pokok-pokok ajarannya tentang teknik-tentik spiritual tarekat yang
                                    didirikannya itu dituliskan oleh dua orang muridnya dalam bahasa Melayu,
                                    di antara yang terpenting adalah  Fath al-’Arifin, sebuah kitab singkat yang
                                    diturunkan kepada muridnya ’Abd al-Rahim al-Bali. Kitab ini memuat ajaran
                                    tentang bay’ah, dzikir, teknik-teknik spritual lainnya, serta silsilah spiritualnya.
                                    Dilihat dari silsilah yang dimuat di dalam kitab ini, jelas bahwa tarekat Qadiriyah
                                    merupakan unsur yang dominan, karena silsilah yang digunakan Syaikh Ahmad
                                    Khatib adalah silsilah tarekat Qadiriyah. Pada perkembangannya, kitab inilah
                                    yang umumnya dijadikan rujukan para penganut tarekat. Di Indonesia, ajarannya
                                    disebarluaskan para muridnya  sendiri, yang bertindak sebagai khalifahnya
                                    setelah Ahmad Khatib wafat, seperti Syaikh ’Abd al-Karim asal Banten, Syaikh
                                    Thalhah asal Cirebon dan Syaikh Ahmad Hasbullah asal Madura, semuanya
                                    bermukim di Makkah.  55

                                    Semua cabang tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang tersebar di Indonesia
                                    mempunyai  hubungan  keguruan  dengan ketiganya  atau paling tidak salah
                                    satu dari mereka. Murid-murid ketiga khalifah di atas, yang setelah belajar di
                                    Makkah diangkat menjadi khalifah di negeri asalnya, bertanggung jawab atas
                                    tersebarnya tarekat ini ke Nusantara. Dan para khalifah itu pun menyebarkan
                                    dan mengangkat khalifahnya pula, sehingga tarekat ini kemudian tersebar ke
                                    banyak di Indonesdia dan bahkan Asia Tenggara.

                                    Para murid dan atau khalifah tarekat ini telah menulis beberapa karya berkenaan
                                    dengan ajaran tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, seperti Muhammad Ma’ruf
                                    ibn Abd Allah Khatib dari Palembang menulis risalah yang berjudul  Tariqah
                                    yang Dibangsakan kepada Qadiriyah dan Naqsyabandiyah; dan Kiai Muslim
                                    yang mengajar di pesantrennya di Mranggen, Jawa Tengah, menulis beberapa
                                    risalah, di antaranya  al-Futuhat al-Rabbaniyyah fi al-Tariqah al-Qadiriyyah wa
                                    al-Naqsyabandiyyah,‘Umdat  al-Salik  fi  Khayr  al-Masalik  dan  Risalah  Tuntunan
                                    Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.
                                                                        56


                 Neo-sufisme
              mengalihkan pusat     Tarekat Neo-sufisme: Tijaniyah dan Idrissiyah
                perhatian pada
            pembinaan sosio-moral
              masyarakat Muslim,    ”Neo-sufisme” adalah sebuah gerakan yang dicirikan oleh penolakan terhadap
              sedangkan sufisme
            terdahulu lebih bersifat   sisi ekstatik dan metafisis sufisme dan lebih menyukai pengamalan secara ketat
              individu dan hampir   ketentuan-ketentuan syariat, dan dengan upaya untuk menyatu dengan ruh
               tidak melibatkan     Nabi sebagai ganti menyatu dengan Tuhan.  Prinsip utama gerakan ini adalah
                                                                             57
               diri dalam hal-hal   sufisme yang diperbaharui. Pada era kecemerlangan sufisme terdahulu, aspek
               kemasyarakatan.
               Oleh karena itu,     paling dominan adalah sifat  ekstatik-metafisis atau mistis-filosofis. Dalam
             karakter keseluruhan   sufisme baru ini, hal itu diganti dengan prinsip-prinsip Islam ortodoks. Neo-
              neo-sufisme adalah    sufisme mengalihkan pusat perhatian pada pembinaan sosio-moral masyarakat
            “puritanis dan aktivis”.
                                    Muslim, sedangkan sufisme terdahulu lebih bersifat individu dan hampir tidak




                    202
   213   214   215   216   217   218   219   220   221   222   223