Page 220 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 220
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
(Jawa Tengah), Bogor, Cianjur, Cimahi Bandung, Garut, dan Tasikmalaya (Jawa
Barat). Sementara di Jawa Timur, pusat-pusat penyebaran tarekat ini terdapat di
Surabaya, Sidagiri Pasuruan, Sumenep, Lirboyo, dan Probolinggo. 63
Belakangan, tarekat ini mulai mendapat pengikut yang semakin besar di Jakarta
dan sekitarnya. Salah satu pusat perkembangan tarekat ini adalah di Ciputat,
di mana berdiri sebuah pesantren yang sekaligus berfungsi sebagai pusat
pendidikan tarekat ini. Pesantren itu adalah Pesantren al-Umm, berlokasi di desa
Cempaka Putih, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten. Pimpinan
pondok yang juga bertindak sebagai pimpinan tarekat Tijaniyah itu adalah KH
Misbahul Anam. Di antara pengikut tarekat Tijaniyah yang kuat bersosialisasi
datang dari pihak pedagang pakaian. Mereka menamakan diri sebagai kelompok
al-tujjâr, para pedagang. 64
Terkait kitab rujukan, Kitab al-Munyah fî al-Taraqah al-Tijaniyyah karangan ‘Ali
ibn ‘Abd Allah al-Thayyib al-Azhari menjadi rujukan utama para anggota tarekat
Tijaniyah. Selain sanad tarekat dari guru-guru terdahulu, kitab ini berisi beragam
pesan serta restu untuk menyebarkan ajaran ini kepada murid-murid secara
luas. 65
Selain Tijaniyah, tarekat Selain Tijaniyah, tarekat lain yang juga bergerak dengan prinsip Neo-Sufisme
lain yang juga bergerak
dengan prinsip Neo- adalah tarekat Idrisiyah. Didirikan oleh Ahmad ibn Idris ibn Muhammad ibn ‘Ali
Sufisme adalah tarekat (1760-1837), tarekat ini sempat terpecah-pecah setelah pendirinya wafat. Sejak
Idrisiyah. Didirikan oleh itu, muncul beberapa tarekat yang berasal dari sana, di antaranya adalah Tarekat
Ahmad ibn Idris ibn
Muhammad ibn ‘Ali Sanusiyah yang didirikan oleh Syaikh Muhammad ibn ‘Ali al-Sanusi (1787-1859)
(1760-1837), tarekat ini dan Tarekat Mirghaniyah yang didirikan oleh Muhammad ‘Utsman al-Mirghani
sempat terpecah-pecah yang lahir tahun 1794. 66
setelah pendirinya
wafat. Sejak itu, muncul
beberapa tarekat yang Tarekat Idrisiyah masuk ke Indonesia sekitar 1930-an, tepatnya di Tasikmalaya,
berasal dari sana, di Jawa Barat, oleh seorang Kiai Sunda bernama Abdul Fattah yang pulang dari
antaranya adalah
Tarekat Sanusiyah yang Makkah pada 1932. Putra H. Muhammad Syarif ibn Umar dan Hj. Rafi’ah binti
didirikan oleh Syaikh Jenah ini lahir di desa Mekarwangi, Cisayong, Tasikmalaya pada 1303 H/1884
Muhammad ibn ‘Ali al- M. Secara silisilah, ia adalah keturunan ketujuh Syarif Hidayatullah (Sunan
Sanusi (1787-1859) dan Gunung Jati), salah seorang Walisongo, dan pendiri dua kesultanan di Jawa
Tarekat Mirghaniyah
yang didirikan oleh Barat, Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten.
Muhammad ‘Utsman
al-Mirghani yang lahir
tahun 1794. Di Makkah, Abdul Fattah bertemu dengan dan belajar kepada Ahmad al-
Syarîf al-Sanusi, cucu Muhammad ‘Ali al-Sanusi (1797-1859), pendiri tarekat
Sanusiyah. Dalam kesempatan itu, Ahmad al-Syarîf al-Sanusi telah memberikan
ijazah kepadanya untuk menyebarkan tarekat Sanusiyah ini di Indonesia. Tarekat
Sanusiyah sendiri dikenal sebagai sebuah gerakan revivalisme, yang secara politik
menjadi ancaman bagi Italia di Cyrenaica (Libya), sehingga, karena sekaligus
sebagai gerakan politik, sangat boleh jadi terakat ini dilarang pemerintah kolonial
Belanda. Maka, untuk menghindari masalah dengan pemerintah kolonial waktu
204

