Page 215 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 215
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
Belakangan, nama tarekat ini sering dihubungkan dengan amalan-amalannya
yang dapat mendatangkan kekebalan tubuh, seperti dipraktikkan dalam
permainan debus. Pengikutnya, selain di Sumatra Selatan dan Kalimantan
Selatan, banyak juga tersebar di Betawi, Sumbawa, dan semenanjung Melayu.
Di Sulawesi Selatan, di mana tarekat Khalwatiyah lebih dikenal di sana sejak
masa Syaikh Yusuf al-Makassari, tarekat Samaniyah ini berpadu dengan
tarekat Khalwatiyah, sehingga dikenal juga dengan nama tarekat Khalwatiyah-
Sammaniyah. 50
Selain karya Muhammad ibn ‘Abd al-Karim al-Samman, al-Nafahat al-Ilahiyah al-
Kaifiyyah Suluk al-Thariqat al-Muhammadiyah, para anggota tarekat ini dalam
kesehariannya menjadikan Kitab Fath al-Kayfiyat al-Dzikr dan Tuhfah al-Amr fi
Fadhilat al-Dzikr karya Syaikh Yusuf al-Makassari sebagai rujukan. Kedua kitab
ini secara umum membahas perihal tingkatan-tingkatan ibadah dan langkah-
langkah menuju kemajuan spiritual yang harus dilakukan para anggota tarekat.
Tarekat Naqsyabandiyah
Tarekat ini didirikan Muhammad ibn Muhammad Baha’ al-Din al-‘Uwaysi al-
Bukhari al-Naqsyabandi (lahir di Bukhara pada 717 H/1317 M, dan wafat di
Bukhara pada 791 H/1388-9 M). Sebelum mendirikan tarekat ini, Baha’ al-Din
al-Naqsyabandi menuntut ilmu tasawuf kepada beberapa orang guru sufi, di
antaranya Muhammad Baba al-Sammasi (w. 740 H/1340 M), ‘Amir Kulal (w.
772 H/1371 M), keduanya adalah syaikh tarekat yang berasal dari Abu Ya’qub
Yusuf al-Hamadanî.
Meskipun didirikan pertama kali di Bukhara, tarekat Naqsyabandiyah memegang
peranan di India dengan cabang-cabangnya di Cina, Asia Tenggara, dan di
banyak dunia Muslim lain. Tarekat ini pertama kali berkembang di Asia Tengah
kemudian ke Turki, Suriah, Afganistan, dan India. Di Indonesia, penyebaran
tarekat ini dimungkinkan berkat jasa Yusuf al-Makassari. Sampai sekarang
pengaruhnya masih besar di Sumatera, kepulauan Riau, Jawa dan tempat-
tempat lain.
Di Sumatra Barat, tarekat ini disebarkan pertama kali oleh seorang ulama
bernama Jamaluddin, penulis sebuah teks fikih Naqsyabandi yang berjudul Lubab
al-Hidayah, pada paruh pertama abad ke-17. Jamaluddin mula-mula belajar ke
Pasai, kemudian melanjutkan pendidikannya ke Bayt al-Faqih, Aden, Haramayn,
Mesir, dan India. Setelah pulang dari pengembaraan ilmiahnya itu, dia kembali ke
Sumatra Barat untuk mengajarkan dan menyebarkan tarekat Naqsyabandiyah.
Dan menjelang akhir abad ke-18, tarekat Naqsyabandiyah, sebagaimana halnya
51
dengan tarekat Syattariyah dan Qadiriyah, telah berkembang di Minangkabau.
199

