Page 210 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 210
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
Bisthamiyah di Turki Umani. Di Nusantara, tarekat ini dikembangkan untuk
pertama kalinya oleh Abd Al-Rauf Sinkel (w. 1693), bukan dari India tetapi dari
Makkah. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari dua syaikh tarekat ini di Haramayn
pada abad ke-17, Ahmad al-Qusyasyi dan Ibrahim al-Kurani, yang menjadi
guru dari Abdurrauf Sinkel dan mengangkatnya menjadi khalifah Syattariyah
di Sumatera. Dalam perjalanannya, Abdurrauf Sinkel mulai memperkenalkan
tarekat ini ke Aceh pada tahun 1090/1679. 34
Abdurrauf bukanlah murid Jawi satu-satunya yang belajar dan diinsiasi ke dalam
tarekat Syattariyah oleh Ahmad al-Qusyasyi dan Ibrahim al-Kurani. Murid-
murid Jawi lain juga berperan dalam mengajarkan dan menyebarkan tarekat
Syattariyah ke Nusantara. Namun, penyebarannya secara meluas di Nusantara
sering dialamat kepada Abdurrauf Sinkel, karena dia mempunyai murid yang
sangat banyak yang tersebar di banyak wilayah. Dia mengajarkan tarekat ini
bukan saja di Aceh setelah kepulangannya dari menuntut ilmu di Haramain
tahun 1661 M, tetapi karena sebelum itu dia juga telah mengajarkan tarekat ini
di Haramain dan menginisiasi para murid Jawi yang menuntut ilmu di sana ke
dalam tarekat Syattariyah. 35
Namun, penyebarannya secara sistematis baru terjadi setelah dia kembali dari
Haramain. Dia mengajarkan dan menginisiasi beberapa ulama Nusantara untuk
bertindak sebagai khalifahnya dalam pengembangan tarekat Syattariyah. Para
Pemukiman pengikut Tarekat
Syattariyyah di Sumatra Barat.
Sumber: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya.
194

